Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini seiring tren bearish yang masih mendominasi pergerakan pasar. Secara teknikal, pasangan XAU/USD pada timeframe harian belum menunjukkan sinyal kuat untuk berbalik arah, sehingga peluang pelemahan masih terbuka dalam jangka pendek.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan harga emas hingga saat ini masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 50 yang kerap digunakan pelaku pasar untuk mengidentifikasi arah tren utama.
“Ketika harga bergerak di bawah MA 21 dan MA 50, kondisi tersebut umumnya mengindikasikan tren turun masih mendominasi dan belum ada tanda kuat yang menunjukkan perubahan arah pergerakan,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, kegagalan harga emas menembus area MA 21 dan MA 50 menunjukkan minat beli investor masih relatif terbatas. Sementara itu, tekanan jual masih cukup kuat sehingga membuat pergerakan harga cenderung bergerak dalam jalur penurunan.
Selama harga emas belum mampu kembali bergerak di atas kedua indikator tersebut, skenario pelemahan masih menjadi fokus utama pasar. Dalam kondisi saat ini, XAU/USD berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support terdekat di kisaran USD4.365 per troy ons.
Jika tekanan jual berlanjut, target pelemahan berikutnya diperkirakan berada di area USD4.306 per troy ons. Area support tersebut menjadi level penting yang akan dicermati investor dan trader dalam beberapa waktu mendatang.
“Apabila harga berhasil bertahan di area tersebut, maka peluang terjadinya rebound atau pemantulan harga bisa muncul. Namun sebaliknya, jika tekanan jual tetap kuat, maka risiko pelemahan yang lebih dalam masih perlu diwaspadai,” kata Geraldo.
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas
Selain faktor teknikal, harga emas juga menghadapi tekanan dari sejumlah sentimen fundamental yang dinilai kurang mendukung. Salah satu faktor utama adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih bertahan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Geraldo, penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut umumnya menurunkan permintaan terhadap logam mulia dan memberikan tekanan pada harga.
“Ketika dolar AS menguat, harga emas biasanya menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut seringkali mengurangi permintaan terhadap emas dan memberikan tekanan pada harga,” ujarnya.
Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield juga menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga emas. Investor cenderung memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau yield.
Sebagai aset non-yielding, emas biasanya kehilangan daya tarik ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi berada pada level tinggi.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter selanjutnya dari Federal Reserve atau The Fed. Hingga kini, sebagian investor menilai bank sentral AS belum memiliki alasan kuat untuk segera memangkas suku bunga secara agresif.
Selama data ekonomi Amerika Serikat, terutama sektor tenaga kerja dan inflasi, masih menunjukkan ketahanan yang baik, ekspektasi suku bunga tinggi diperkirakan tetap bertahan. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi dolar AS, namun kurang menguntungkan bagi harga emas.
Minat terhadap aset safe haven juga mulai berkurang seiring membaiknya sentimen pasar global. Ketika optimisme terhadap prospek ekonomi meningkat, dana investasi cenderung mengalir ke aset berisiko yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi dibandingkan emas.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental menunjukkan tekanan bearish terhadap harga emas masih belum mereda. Selama harga belum mampu menembus MA 21 dan MA 50, peluang pelemahan menuju area support USD4.365 hingga USD4.306 masih terbuka.
Karena itu, investor dan trader disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan dolar AS yang berpotensi menjadi penentu arah harga emas dalam waktu dekat.
“Meski peluang koreksi masih mendominasi, perubahan sentimen pasar sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas yang lebih tinggi pada pergerakan emas global,” tutur Geraldo.
