IHSG Melemah ke 6.352 di Pembukaan Pasar Hari Ini

IHSG Melemah ke 6.352 di Pembukaan Pasar Hari Ini

IHSG bergerak fluktuatif pada pembukaan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Setelah sempat berada di zona merah di level 6.352,202, IHSG berbalik menguat tipis pada perdagangan pagi.

Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.25 WIB, IHSG naik 6,378 poin atau 0,10 persen ke level 6.377,058. Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak di level tertinggi 6.378 dan terendah 6.282.

Meski IHSG sempat menguat, mayoritas saham emiten masih berada di zona merah. Sebanyak 341 saham tercatat melemah, sementara 229 saham menguat dan 156 saham stagnan.

Total transaksi perdagangan pagi ini mencapai Rp2,664 triliun dengan volume perdagangan sebesar 5,141 miliar saham. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp11.107,843 triliun.

IHSG Dibayangi Sentimen Negatif Global

Riset harian Samuel Sekuritas menyebutkan pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.

Indeks Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 melemah 0,67 persen, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,84 persen.

Tekanan di pasar saham AS dipicu pelemahan saham sektor teknologi, terutama setelah tekanan dari saham Micron. Selain itu, investor juga masih dibayangi kenaikan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat, harga minyak yang meningkat, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Bursa Asia Bergerak Beragam

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham pada Selasa bergerak menguat. Indeks Hang Seng naik 0,48 persen dan Shanghai Composite menguat 0,92 persen. Namun, Nikkei Jepang turun 0,44 persen.

Sementara itu, IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 dengan aksi beli bersih atau net buy investor asing sebesar Rp261,2 miliar.

Pada perdagangan Rabu pagi, indeks Asia kembali bergerak negatif. Kospi Korea Selatan turun 0,74 persen, sedangkan Nikkei Jepang melemah lebih dalam sebesar 1,89 persen.

“Hari ini, IHSG diperkirakan akan melemah di tengah sentimen negatif dari pasar global dan regional,” tulis analis Samuel Sekuritas dalam risetnya.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan geopolitik global, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang terus memengaruhi sentimen pasar keuangan global.