Cegah Kenaikan Harga, BGN Imbau SPPG Kurangi Telur dalam Menu MBG

Cegah Kenaikan Harga, BGN Imbau SPPG Kurangi Telur dalam Menu MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara waktu mengurangi penggunaan telur dan menggantinya dengan sumber protein lain seperti ikan. Kebijakan ini dilakukan untuk menahan lonjakan permintaan telur yang berpotensi mendorong kenaikan harga menjelang bulan suci Ramadan.

Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pengaturan menu tersebut telah disampaikan kepada dapur MBG di berbagai daerah. Ia menegaskan, diversifikasi menu menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Pengalihan Menu Demi Stabilitas Harga

“Harus ganti dengan ikan dulu, sementara harus ngalah yang telurnya,” ujar Nanik saat ditemui di SMKN 1 Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (8/1).

Menurut Nanik, imbauan serupa pernah diterapkan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan terbukti efektif. Saat itu, dapur MBG diminta mengurangi penggunaan telur dan menggantinya dengan daging sapi agar lonjakan harga dapat ditekan.

Diversifikasi pangan, lanjutnya, bukan hal baru dalam pelaksanaan MBG. Pada periode tertentu sebelumnya, dapur MBG juga diarahkan menggunakan sumber protein alternatif guna menyesuaikan kondisi pasokan dan harga di pasar.

Penguatan Pasokan Protein Hewani

Selain pengaturan menu, BGN juga menyiapkan langkah jangka menengah hingga panjang dari sisi pasokan. Nanik menyebut dukungan protein hewani untuk MBG akan diperkuat melalui pembangunan peternakan sapi terintegrasi.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengalokasikan dana sekitar Rp2,4 triliun untuk proyek tersebut. Investasi ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari peternakan sapi, pabrik pakan, hingga pengelolaan rumput dalam satu kawasan terintegrasi dengan kapasitas sekitar 67 ribu ekor sapi.

BGN juga tengah menyiapkan dapur berbasis sapi sebagai bagian dari strategi menjaga pasokan. “Kita lagi buat dapur sapi, jadi nanti kalau Lebaran sapinya naik harganya, kita punya sapi sendiri,” kata Nanik.

Harga Telur Naik Seiring Program MBG

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga telur ayam ras di berbagai daerah seiring bergulirnya program MBG. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut meningkatnya kebutuhan telur sebagai salah satu menu utama MBG turut mendorong permintaan.

Pada pekan kedua November 2025, harga telur ayam ras secara rata-rata nasional naik 0,32 persen dibandingkan Oktober menjadi Rp31.646 per kilogram, melampaui harga acuan penjualan (HAP) Rp30 ribu per kilogram. Kenaikan harga tercatat terjadi di 157 kabupaten/kota.

“Untuk telur ayam ras ini menarik karena memang yang mendorong kenaikan harga adalah meningkatnya permintaan sebagai salah satu komponen lauk pauk pada menu MBG,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2025, Senin (17/11/2025).

Dikutip dari cnnindonesia.com