Harga Emas Dunia Turun di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed

Harga Emas Dunia Turun di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed

Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat dan diperkirakan mencatatkan penurunan secara mingguan. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang berpotensi membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Mengutip data Investing.com, Sabtu (11/7/2026), harga emas spot turun 0,2 persen menjadi USD4.114,45 per troy ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka melemah 0,5 persen ke level USD4.122,47 per troy ons.

Sepanjang pekan ini, baik emas spot maupun emas berjangka sama-sama mencatat penurunan sekitar 1,6 persen seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat.

Ketegangan AS-Iran Jadi Sorotan Pasar

Pergerakan harga emas sepanjang pekan dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul insiden terhadap tiga kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz.

Konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

Presiden AS Donald Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyatakan bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Meski demikian, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi pemerintah Amerika Serikat untuk membuka peluang perundingan baru.

Di sisi lain, Oman dan Pakistan kembali mengambil peran sebagai mediator dengan mendorong kedua negara melanjutkan jalur diplomasi guna menghindari konflik yang lebih luas.

Langkah diplomatik tersebut dinilai pasar sebagai sinyal bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka meskipun ketegangan militer belum sepenuhnya mereda.

Harga Minyak Naik, Kekhawatiran Inflasi Meningkat

Analis ANZ menilai harga emas masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi perang berskala lebih besar.

Namun demikian, kenaikan harga energi tetap menjadi perhatian utama karena berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Selain itu, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami penurunan selama pekan ini karena perusahaan pelayaran memilih membatasi operasional akibat meningkatnya risiko keamanan.

Berkurangnya lalu lintas kapal di jalur distribusi minyak dunia tersebut turut memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.

Investor Menunggu Data Inflasi AS

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pekan depan.

Laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) periode Juni akan diumumkan pada Selasa, kemudian disusul data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) pada Rabu.

Data tersebut diperkirakan menjadi acuan utama bagi investor dalam menilai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.

Sebelumnya, risalah rapat Federal Reserve periode 16–17 Juni menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan pejabat bank sentral mengenai prospek suku bunga. Dalam laporan kebijakan moneter kepada Kongres, The Fed juga menyoroti tekanan inflasi yang berasal dari konflik di Timur Tengah, meningkatnya permintaan semikonduktor untuk teknologi kecerdasan buatan (AI), serta dampak tarif perdagangan.

Sejumlah analis menilai inflasi pada Mei kemungkinan menjadi puncak tekanan harga setelah harga minyak sempat kembali stabil sebelum kembali bergejolak akibat meningkatnya konflik geopolitik.