Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Pelemahan rupiah melanjutkan tekanan yang terjadi sejak akhir pekan lalu.
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.055 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu di level Rp18.027 per dolar AS.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.943 per dolar AS. Posisi tersebut stagnan dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu.
Rupiah Diprediksi Fluktuatif Cenderung Melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan fluktuatif dengan kecenderungan kembali melemah.
Rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS.
“Ada beberapa indikasi secara domestik yang membuat rupiah terus mengalami pelemahan walaupun Bank Indonesia melakukan intervensi, menteri keuangan juga terus melakukan intervensi di pasar,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah pengumuman lembaga penyedia indeks global MSCI yang akan memulai periode konsultasi terkait proposal reklasifikasi status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Harga Minyak dan Defisit APBN Jadi Perhatian
Selain isu MSCI, terdapat sejumlah persoalan domestik yang turut menjadi perhatian terhadap pergerakan rupiah.
Ibrahim menyebut harga minyak yang tinggi serta kebutuhan impor energi yang cukup besar menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan.
Kondisi tersebut diyakini berdampak terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diproyeksikan mencapai 2,85 persen.
Angka tersebut mendekati batas maksimal defisit sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Senin diperkirakan masih menghadapi tekanan dan berpotensi bergerak fluktuatif.
