Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat dan menekan pergerakan mata uang dolar.
Mengutip Investing.com, Jumat, 3 Juli 2026, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,5 persen ke level 100,86. Pelemahan tersebut diperkirakan menjadi penurunan harian terbesar sejak akhir April 2026.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko menguat 0,4 persen ke level USD0,6920. Meski demikian, mata uang tersebut masih berada di sekitar posisi terendah dalam tiga bulan terakhir.
Sepanjang pekan ini, pelaku pasar mencermati sejumlah data ketenagakerjaan AS sebagai acuan utama dalam memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Pada awal pekan, data lowongan kerja AS periode Mei meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun. Sementara itu, laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan perlambatan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Juni. Namun, laporan tenaga kerja swasta dari ADP justru mengindikasikan pelemahan pasar tenaga kerja.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS), jumlah lapangan kerja nonpertanian bertambah sebanyak 57 ribu pada Juni. Realisasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan penambahan 114 ribu lapangan kerja, serta di bawah revisi data Mei yang tercatat 129 ribu.
Pertumbuhan lapangan kerja terutama ditopang oleh sektor jasa profesional dan bisnis, bantuan sosial, serta layanan kesehatan. Sebaliknya, sektor rekreasi dan perhotelan mengalami penurunan jumlah tenaga kerja.
Meski demikian, rata-rata pertumbuhan lapangan kerja dalam tiga bulan terakhir masih berada di kisaran 111 ribu, yang mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja AS relatif tetap solid.
BLS juga melaporkan tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen pada Juni setelah bertahan di level 4,3 persen selama tiga bulan sebelumnya.
Data ketenagakerjaan tersebut memperkuat pandangan pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan para pembuat kebijakan akan lebih mengutamakan data ekonomi dalam menentukan arah kebijakan moneter. Menurutnya, risiko inflasi juga mulai menurun seiring pelemahan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan moneter lanjutan. Namun, dengan tekanan inflasi yang mulai mereda dan kondisi pasar tenaga kerja yang tetap stabil, peluang kenaikan suku bunga dinilai semakin terbatas.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli semakin meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat bertenor pendek sekaligus memberikan tekanan terhadap penguatan dolar AS.
