Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan Jumat waktu setempat dan berpeluang menutup pekan dengan penguatan tipis. Pelaku pasar global masih mencermati perkembangan inflasi di Amerika Serikat serta prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), di tengah kembali meningkatnya harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip data Investing.com, Sabtu (11/7/2026), Indeks Dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1 persen ke level 100,96. Secara mingguan, indeks tersebut juga mencatat kenaikan sebesar 0,1 persen.
Sementara itu, berdasarkan data Xinhua, mata uang euro melemah ke level USD1,1416 dari sebelumnya USD1,1434. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3398 dari posisi USD1,3416 pada sesi perdagangan sebelumnya.
Di sisi lain, dolar AS diperdagangkan pada level 161,69 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan 162,34 yen pada perdagangan sebelumnya. Terhadap franc Swiss, dolar menguat menjadi 0,8085 franc Swiss dari sebelumnya 0,8066 franc Swiss.
Adapun terhadap dolar Kanada, mata uang AS justru melemah menjadi 1,4152 dolar Kanada dari sebelumnya 1,4167 dolar Kanada. Sebaliknya, dolar AS menguat terhadap krona Swedia menjadi 9,6638 dari level 9,6602.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Pergerakan dolar AS sepanjang pekan dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta meningkatnya permintaan aset safe haven akibat ketidakpastian global.
Pelaku pasar masih mengevaluasi dampak meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terhadap laju inflasi serta kebijakan moneter bank sentral AS. Risalah rapat Federal Reserve pada 16–17 Juni yang dirilis awal pekan ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral mengenai prospek suku bunga ke depan.
Dalam laporan kebijakan moneter kepada Kongres, The Fed juga menyoroti sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi, termasuk konflik di Timur Tengah, meningkatnya permintaan semikonduktor untuk teknologi kecerdasan buatan (AI), serta dampak kebijakan tarif perdagangan.
Fokus investor kini beralih pada rilis data inflasi Amerika Serikat pekan depan. Laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) periode Juni dijadwalkan diumumkan pada Selasa, disusul data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) sehari setelahnya.
Sebelumnya, inflasi tahunan berdasarkan CPI dan PPI pada Mei tercatat sebagai yang tertinggi sejak April 2023 dan November 2022. Kenaikan tersebut dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Namun, sejumlah analis menilai tekanan inflasi berpotensi mereda apabila harga minyak mulai stabil.
Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi Pasar
Selain faktor ekonomi, pasar keuangan global juga masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul insiden terhadap tiga kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir.
Meski demikian, Trump juga mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi pemerintah Amerika Serikat untuk membuka peluang perundingan baru.
Di sisi lain, Oman dan Pakistan sebagai mediator utama terus mendorong kedua negara untuk menahan diri dan melanjutkan proses diplomasi. Upaya tersebut dinilai memberikan harapan bahwa konflik tidak akan berkembang menjadi krisis yang lebih luas sehingga dapat membantu menjaga stabilitas pasar keuangan global.
