Harga emas dunia berpotensi mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah tekanan jual mulai mereda dan muncul sinyal pembalikan arah dalam jangka pendek.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 saat ini menunjukkan kecenderungan bullish yang didukung kombinasi sinyal teknikal.
Secara teknikal, harga emas sebelumnya sempat menembus area support di level USD4.489. Namun, penurunan tersebut tidak bertahan lama dan justru membentuk pola false break yang menandakan tekanan jual mulai kehilangan momentum.
“Setelah kegagalan breakdown tersebut, harga kemudian membentuk swing low yang valid, yang memperkuat asumsi area support tersebut cukup solid untuk menahan penurunan lebih lanjut,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut dia, struktur pergerakan harga saat ini mengarah pada terbentuknya pola Double Bottom yang dikenal sebagai sinyal pembalikan arah dari tren bearish menuju bullish.
Pola tersebut menunjukkan adanya akumulasi beli di area bawah, seiring pelaku pasar mulai melihat harga emas sebagai peluang investasi menarik setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
“Dengan terbentuknya pola tersebut, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area resistance terdekat di kisaran USD4.622 dalam jangka pendek,” katanya.
Selain itu, indikator stochastic juga memperlihatkan Bullish Divergence, yakni kondisi ketika momentum penurunan mulai melemah meskipun harga sempat bergerak turun.
Geraldo menjelaskan, sinyal tersebut sering kali menjadi indikasi awal bahwa tren bearish mulai kehilangan kekuatan sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound.
Dari sisi fundamental, penguatan harga emas turut didukung meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter dunia.
“Meskipun tekanan global sempat mereda, pasar belum sepenuhnya stabil, sehingga permintaan terhadap aset lindung nilai tetap terjaga,” ujar Geraldo.
Pelemahan sementara dolar Amerika Serikat juga memberikan sentimen positif bagi harga emas. Setelah mengalami penguatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, dolar AS mulai terkoreksi akibat aksi ambil untung atau profit taking dari pelaku pasar.
“Kondisi ini menciptakan ruang bagi emas untuk bergerak naik, mengingat hubungan invers antara kedua instrumen tersebut. Ketika dolar melemah, harga emas cenderung menguat karena menjadi lebih menarik bagi investor global,” ungkapnya.
Selain itu, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan sikap Federal Reserve dalam jangka menengah apabila data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan.
“Ekspektasi ini turut memberikan sentimen positif bagi emas, karena suku bunga yang lebih rendah umumnya meningkatkan daya tarik logam mulia,” kata Geraldo.
Dupoin Futures memproyeksikan harga emas dunia berpotensi melanjutkan kenaikan dalam jangka pendek dengan target utama di area USD4.622. Meski demikian, investor tetap diminta mencermati perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi volatilitas pasar.
“Dalam kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi, sehingga strategi yang disiplin dan berbasis analisis menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi,” jelas Geraldo.
