Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (18/5/2026) mengalami pelemahan. Mata uang Garuda masih bergerak di kisaran Rp17.600 per dolar AS seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.659 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.596 per USD.
Pelemahan tersebut membuat rupiah turun 62 poin atau setara 0,35 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026).
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan pergerakan berbeda. Rupiah tercatat berada di zona hijau pada level Rp17.491 per USD atau menguat 31 poin setara 0,18 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.460 per USD.
Di sisi lain, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah tercatat stagnan di level Rp17.496 per USD, sama seperti perdagangan Rabu (13/5/2026).
Penguatan dolar AS dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu aksi jual obligasi global. Kondisi tersebut menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dolar AS juga menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Asia. Euro tercatat berada di level USD1,1609, sementara poundsterling berada di posisi USD1,3305. Keduanya melemah lebih dari 0,1 persen terhadap dolar AS.
Selain itu, dolar Australia yang dikenal sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,4 persen menjadi USD0,7121. Sementara dolar Selandia Baru relatif stabil di level USD0,5827.
Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia tercatat menguat tipis ke level 99,393.
Pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, termasuk perkembangan geopolitik global, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
