Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan. Rupiah melanjutkan tren apresiasi terhadap dolar AS yang telah berlangsung sejak pekan lalu.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 2 Februari 2026, rupiah dibuka di level Rp16.777 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat sembilan poin atau setara 0,05 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.786 per dolar AS.
Namun, berdasarkan data Yahoo Finance pada waktu yang sama, rupiah justru tercatat melemah. Rupiah berada di posisi Rp16.791 per dolar AS atau melemah 10 poin atau 0,06 persen dari level penutupan sebelumnya di Rp16.781 per dolar AS. Perbedaan data tersebut mencerminkan pergerakan rupiah yang masih fluktuatif.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026 akan bergerak fluktuatif namun berpeluang ditutup melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan segera mengumumkan nominasi Ketua The Federal Reserve. Mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh disebut-sebut sebagai kandidat kuat dan dinilai pasar berpotensi mendukung kebijakan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.
“Potensi nominasi Kevin Warsh muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar terhadap independensi The Fed, menyusul dorongan berulang dari Presiden Trump agar bank sentral memangkas suku bunga secara tajam,” ujar Ibrahim.
Selain faktor kebijakan moneter AS, sentimen global juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik. Ancaman serangan Amerika Serikat terhadap Iran terkait isu senjata nuklir memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan mendorong investor kembali memburu aset aman, termasuk dolar AS.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dinilai krusial untuk meredam dampak dinamika suku bunga global serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
“Penguatan bauran kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, meski tekanan ketidakpastian global terus meningkat,” jelas Ibrahim.
Dikutip dari metrotvnews.com
