Nilai Tukar Rupiah ke Rp17.346/USD di Awal Perdagangan Senin

Nilai Tukar Rupiah ke Rp17.346/USD di Awal Perdagangan Senin

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026), di tengah tekanan sentimen global yang masih tinggi. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.346 per dolar AS atau turun sembilan poin (0,05 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.337 per dolar AS.

Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.345 per dolar AS pada waktu yang sama, relatif stagnan dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama terkait kondisi geopolitik dan penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Menurutnya, meningkatnya permintaan terhadap dolar AS terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini mendorong peralihan dana dari aset berisiko di negara berkembang ke instrumen yang lebih aman.

Selain faktor geopolitik, Ibrahim menyebut dinamika politik di AS, potensi perang dagang, serta kebijakan bank sentral turut memengaruhi penguatan indeks dolar. Faktor supply dan demand di pasar global juga menjadi penentu arah pergerakan mata uang.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah dalam waktu dekat, bahkan bisa menyentuh level Rp17.550 hingga Rp17.750 per dolar AS jika tekanan eksternal terus berlanjut.

Di sisi lain, kebijakan perdagangan Amerika Serikat seperti penerapan tarif impor baru dinilai dapat menambah tekanan di pasar keuangan global. Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi mendorong inflasi global dan memengaruhi arah suku bunga acuan.

Meski demikian, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan sangat bergantung pada respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah intervensi di pasar valuta asing serta kondisi fundamental domestik dinilai akan menjadi faktor penting dalam menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.