Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Posisi Rp17.977 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Dibuka ke Posisi Rp17.977 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Pergerakan mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap sejumlah sentimen global maupun domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.977 per dolar AS atau melemah 25 poin setara 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.952 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.956 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan penguatan tipis dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.010 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah masih tingginya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar keuangan global, meskipun produksi minyak mentah Amerika Serikat telah mencapai rekor tertinggi sehingga meningkatkan pasokan energi dunia.

“Para pedagang tetap fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, perubahan pendekatan dalam proses negosiasi tersebut membuat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin tidak pasti. Pasar pun masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai upaya mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan menjadi kesepakatan perdamaian jangka panjang.

Selain sentimen global, rupiah juga mendapat tekanan dari faktor domestik. Pelaku pasar merespons negatif data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar.

Defisit tersebut menjadi perhatian karena merupakan defisit neraca perdagangan pertama yang terjadi dalam enam tahun terakhir.

Di sisi lain, inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat mencapai 3,34 persen secara tahunan. Kenaikan harga pada kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi menjadi penyumbang utama inflasi selama periode tersebut.

Kombinasi ketidakpastian geopolitik global, defisit neraca perdagangan, serta tekanan inflasi domestik diperkirakan masih akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar juga akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter global dan berbagai indikator ekonomi sebagai penentu arah pergerakan nilai tukar selanjutnya.