Kurs Rupiah Naik Terbatas ke Posisi Rp17.690 per Dolar AS Pagi Ini

Kurs Rupiah Naik Terbatas ke Posisi Rp17.690 per Dolar AS Pagi Ini

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Selasa (16/6/2026). Sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penurunan harga minyak dunia menjadi faktor yang menopang pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Yahoo Finance hingga pukul 09.33 WIB, rupiah berada di level Rp17.690 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.714 per dolar AS.

Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan rupiah diperdagangkan pada level Rp17.704 per dolar AS, menguat tipis lima poin atau 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.709 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan berlangsung fluktuatif. Meski demikian, ia memperkirakan mata uang domestik berpeluang ditutup menguat.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.650 per USD hingga Rp17.700 per USD,” ujar Ibrahim.

Sentimen Perdamaian AS-Iran Dorong Optimisme Pasar

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang memengaruhi penguatan rupiah adalah perkembangan positif hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump serta Wakil Menteri Luar Negeri Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut rencananya akan dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani di Swiss dengan mediasi Pakistan. Pembukaan kembali Selat Hormuz dipandang penting karena jalur tersebut merupakan salah satu titik distribusi energi utama dunia yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.

Investor kini mencermati seberapa cepat negara-negara produsen di Timur Tengah dapat memulihkan produksi dan ekspor energi setelah gangguan akibat konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Selain itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebutkan bahwa kesepakatan yang lebih luas akan dibahas selama masa gencatan senjata 60 hari.

Di sisi lain, kelompok negara E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi terhadap Iran apabila terdapat kemajuan dalam isu program nuklir negara tersebut.

Pasar Menanti Keputusan The Fed

Pelaku pasar juga menaruh perhatian besar pada sejumlah keputusan kebijakan moneter bank sentral dunia pekan ini, terutama hasil rapat Federal Reserve yang kini dipimpin Ketua baru, Kevin Warsh.

Sejumlah bank sentral global seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga sepanjang tahun ini. Namun, meredanya konflik geopolitik berpotensi mengurangi tekanan inflasi sehingga membuka peluang bagi bank sentral lain untuk menahan laju pengetatan kebijakan moneter.

Harga Minyak Turun, Tekanan APBN Berkurang

Ibrahim menilai turunnya harga minyak mentah dunia ke bawah level USD80 per barel menjadi kabar positif bagi Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sisi subsidi energi.

Selain faktor global, pasar juga mencermati berbagai kebijakan domestik, termasuk evaluasi efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penyesuaian target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.

Pelaku pasar juga mulai mengalihkan perhatian pada rapat kebijakan Bank Indonesia yang akan digelar akhir pekan ini. Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.

Menurut Ibrahim, langkah tersebut merupakan upaya antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global dan menekan risiko keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.

Dengan kombinasi sentimen positif dari meredanya konflik geopolitik, penurunan harga minyak, serta kebijakan moneter yang lebih ketat, rupiah berpeluang mempertahankan tren penguatannya dalam jangka pendek.