Harga minyak dunia sedikit menurun pada Rabu, 4 Februari 2026, setelah muncul laporan bahwa pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali berlanjut. Sebelumnya, pembaruan menyebutkan dialog tersebut sempat dibatalkan. Dinamika hubungan kedua negara masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global.
Meski demikian, penurunan harga tertahan oleh data industri yang menunjukkan persediaan minyak Amerika Serikat menyusut secara tak terduga dalam jumlah besar pada pekan sebelumnya. Kondisi cuaca dingin ekstrem di AS dilaporkan mengganggu produksi minyak nasional.
Dikutip dari Investing.com, Kamis, 5 Februari 2026, harga minyak Brent berjangka untuk April naik 1,9 persen menjadi USD68,61 per barel, setelah sempat menyentuh USD69,75 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka menguat 1,7 persen ke level USD64,27 per barel.
Laporan Axios menyebutkan pembicaraan nuklir AS dan Iran sempat gagal setelah Washington menolak mengubah lokasi dan format pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Jumat. Namun, laporan lanjutan menyatakan dialog kembali dilanjutkan setelah sejumlah pemimpin Arab dan Muslim mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump agar tidak menghentikan pembicaraan.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengonfirmasi melalui media sosial X bahwa pembicaraan nuklir akan digelar di Muscat pada Jumat. Sebelumnya, pejabat Iran meminta agar perundingan dipersempit menjadi negosiasi bilateral terkait isu nuklir, sehingga memunculkan keraguan atas kelanjutan dialog tersebut.
Di tengah upaya diplomatik itu, ketegangan militer tetap meningkat. Laporan menyebutkan AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Selain itu, sejumlah kapal perang Iran dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengambil langkah militer lebih lanjut jika Iran tidak memenuhi tuntutan untuk membatasi program nuklirnya. Iran pun memperingatkan akan melakukan pembalasan keras terhadap setiap bentuk agresi militer. Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan menopang harga dalam beberapa sesi terakhir.
Di sisi lain, harga minyak juga mendapat dukungan dari data American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS menyusut 11,1 juta barel pada pekan hingga 30 Januari. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,7 juta barel.
Penurunan tajam stok minyak tersebut dipicu oleh gangguan produksi akibat cuaca dingin ekstrem, sekaligus terganggunya ekspor dari wilayah Pantai Teluk AS. Gangguan pasokan ini turut berkontribusi terhadap penguatan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.
Dikutip dari metrotvnews.com
