Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish atau kecenderungan melemah yang cukup kuat.
XAU/USD Masih Tertahan di Bawah MA 21 dan MA 50
Secara teknikal, harga emas saat ini masih bergerak di bawah area Moving Average (MA) 21 dan MA 50 yang berfungsi sebagai resistance kuat.
Kondisi tersebut membuat harga emas kesulitan melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.
“Kondisi ini menunjukkan momentum kenaikan emas masih belum cukup besar untuk mengubah arah tren utama. Selama harga masih bergerak di bawah area tersebut, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pasar,” jelas Geraldo dalam analisis hariannya, Selasa 26 Mei 2026.
Pada perdagangan sebelumnya, volatilitas harga emas juga cenderung terbatas akibat minimnya data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang biasanya menjadi penggerak utama pasar.
Harga Emas Berpotensi Uji Support USD4.483
Menurut Geraldo, secara teknikal XAU/USD masih memiliki peluang menutup area gap yang terbentuk di awal pekan.
Dengan tekanan jual yang masih dominan, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support pertama di level USD4.483 per troy ons.
y=4483y=4483y=4483
“Selama harga belum mampu menembus area MA 21 dan MA 50, maka tren bearish masih cenderung kuat. Oleh karena itu, peluang penurunan lanjutan masih perlu diperhatikan oleh pelaku pasar,” ujar Geraldo.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tekan Harga Emas
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas dipengaruhi ekspektasi bahwa suku bunga Federal Reserve akan tetap tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas.
Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan cenderung melemah.
Selain itu, tingginya yield obligasi membuat investor lebih tertarik pada instrumen berbunga tetap dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Minimnya data ekonomi penting dalam waktu dekat juga membuat pasar kehilangan sentimen kuat untuk mengangkat harga emas. Akibatnya, banyak pelaku pasar memilih menunggu dan belum berani mengambil posisi besar,” papar Geraldo.
Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar
Meski tekanan bearish masih dominan, Geraldo mengingatkan pasar tetap berpotensi bergerak fluktuatif tergantung perkembangan ekonomi global dan pernyataan terbaru pejabat bank sentral AS.
Investor juga masih menunggu arah kebijakan The Fed terkait suku bunga, inflasi, dan kondisi tenaga kerja AS.
Selama belum ada sinyal dovish atau peluang penurunan suku bunga, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih akan berlanjut.
“Karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas selanjutnya,” tutup Geraldo.
