Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Prospek positif tersebut didukung oleh sinyal teknikal yang menunjukkan perubahan arah tren serta sentimen fundamental yang terus menopang permintaan terhadap aset safe haven.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pergerakan emas atau XAU/USD pada timeframe H1 mulai memperlihatkan perubahan tren yang cukup signifikan. Setelah sebelumnya berada dalam tekanan bearish, struktur pelemahan utama dinilai telah selesai terbentuk sehingga membuka peluang bagi harga untuk memasuki fase penguatan.
Menurut Geraldo, salah satu indikasi penting perubahan tren terlihat dari munculnya pola candlestick Bullish Marubozu. Pola tersebut mencerminkan dominasi pembeli sepanjang sesi perdagangan dan sering kali menjadi sinyal awal menguatnya momentum bullish di pasar.
“Dengan struktur pasar yang mulai berubah dan munculnya pola bullish yang kuat, harga memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi dalam jangka pendek,” ujar Geraldo dalam analisis hariannya, Senin, 22 Juni 2026.
Secara teknikal, target kenaikan pertama diperkirakan berada pada level USD4.220 per troy ons. Apabila level tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area resistance berikutnya di kisaran USD4.256 per troy ons.
“Kedua level itu kini menjadi fokus utama investor dalam membaca arah pergerakan emas jangka pendek,” jelasnya.
Selain pola candlestick yang mendukung tren naik, indikator stochastic juga masih menunjukkan sinyal positif. Saat ini indikator bergerak naik menuju area overbought atau jenuh beli. Meski kondisi tersebut kerap dianggap sebagai area rawan koreksi, hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda pembalikan arah yang signifikan.
Pergerakan indikator tersebut justru menunjukkan bahwa momentum beli masih mendominasi pasar dan berpotensi menjaga tren penguatan dalam waktu dekat.
Dari sisi fundamental, harga emas tetap mendapat dukungan dari meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah risiko yang masih membayangi perekonomian dunia, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan internasional, menjadi faktor pendorong permintaan terhadap logam mulia.
“Dalam kondisi seperti itu, emas cenderung menjadi pilihan utama karena dinilai mampu menjaga nilai investasi saat pasar bergejolak,” kata Geraldo.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve juga menjadi sentimen positif bagi harga emas. Pelaku pasar mulai memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tersebut berpotensi mengambil sikap lebih dovish apabila data ekonomi menunjukkan perlambatan.
Penurunan inflasi, pelemahan pasar tenaga kerja, maupun melambatnya pertumbuhan ekonomi berpotensi membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga dalam beberapa waktu mendatang.
Secara historis, kebijakan suku bunga yang lebih rendah cenderung mendorong pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut biasanya memberikan keuntungan bagi emas karena membuat logam mulia lebih kompetitif bagi investor global dan menurunkan biaya peluang dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung positif dalam jangka pendek. Perubahan struktur tren dari bearish ke bullish, kemunculan pola Bullish Marubozu, serta indikator stochastic yang masih menguat menunjukkan tekanan beli tetap solid.
Dengan dukungan tingginya permintaan aset safe haven, peluang pelonggaran kebijakan moneter, serta potensi pelemahan dolar AS, harga emas dinilai masih berpeluang melanjutkan penguatan menuju area resistance USD4.220 per troy ons hingga USD4.256 per troy ons dalam waktu dekat.
