Dolar Amerika Serikat (AS) membukukan kinerja bulanan terbaiknya sejak Juni 2026 pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026) waktu setempat. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam ini didorong oleh aksi menaikkan suku bunga acuan pertama Federal Reserve (The Fed) dalam lebih dari tiga tahun, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta tingginya permintaan terhadap aset aman (safe haven).
Mengutip Xinhua pada Kamis, 1 Oktober 2026, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama dunia menguat 0,08 persen ke posisi 101,451.
Pergerakan Dolar AS terhadap mata uang utama pada penutupan pasar New York tercatat sebagai berikut:
- Euro (EUR): Melemah ke USD1,1332 dari USD1,1341 pada sesi sebelumnya.
- Poundsterling Inggris (GBP): Menguat ke USD1,3262 dari USD1,3229.
- Yen Jepang (JPY): Dolar AS menguat ke 157,34 yen dari 157,22 yen.
- Franc Swiss (CHF): Dolar AS naik ke 0,8354 franc dari 0,8336 franc.
- Dolar Kanada (CAD): Dolar AS menguat ke 1,4229 dari 1,4178.
- Krona Swedia (SEK): Dolar AS menguat ke 10,0103 dari 9,9892.
Dinamika Data Ekonomi PCE dan Revisi PDB AS
Laju penguatan dolar as sempat tertahan di awal sesi setelah rilis data indikator inflasi acuan The Fed, Personal Consumption Expenditures (PCE), mencatatkan kenaikan yang lebih landai dari estimasi pasar.
Laporan Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) menunjukkan PCE utama Agustus tumbuh 0,3 persen secara bulanan (mto-m) dan 3,4 persen secara tahunan (yoy)—di bawah proyeksi konsensus 0,4 persen (mtm) dan 3,7 persen (yoy). Sementara itu, PCE Inti Agustus tumbuh 0,2 persen (mtm) dan 3,0 persen (yoy), juga berada di bawah estimasi pasar.
Meski demikian, sisi fundamental ekonomi AS tetap solid tercermin dari dua data pendukung:
- Revisi Naik PDB Kuartal II: BEA merevisi estimasi pertumbuhan PDB riil AS kuartal II-2026 menjadi 2,2 persen dari perhitungan awal 1,5 persen.
- Tenaga Kerja Swasta Membaik: Laporan ADP mencatat penambahan 90 ribu lapangan kerja di sektor swasta pada September, melesat dibanding Agustus yang hanya menambah 36 ribu pekerjaan.
Lonjakan Yield Obligasi dan Spekulasi Suku Bunga The Fed
Penyokong utama kekuatan Dolar AS berasal dari lonjakan yield US Treasury ke kisaran tertinggi dalam beberapa dekade. Kenaikan imbal hasil obligasi dipicu oleh kekhawatiran inflasi energi akibat tingginya harga minyak dunia, kebutuhan pembiayaan infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI), serta tingginya beban utang fiskal AS.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober terpantau melandai pascapernyataan bernada hati-hati dari Presiden Fed New York John Williams.
Berdasarkan indikator CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada Oktober menyusut menjadi sekitar 37 persen, turun tajam dari posisi 51 persen pada hari sebelumnya.
