Akses Darat Terputus, Distribusi Bantuan ke Aceh Dialihkan Melalui Jalur Laut dan Udara

Akses Darat Terputus, Distribusi Bantuan ke Aceh Dialihkan Melalui Jalur Laut dan Udara

Pemerintah Aceh menegaskan bahwa pembukaan jalur laut dan udara menjadi kunci percepatan distribusi logistik dan evakuasi warga terdampak bencana. Kondisi akses darat yang terputus di sejumlah wilayah membuat dua jalur tersebut menjadi opsi paling realistis dalam penanganan darurat.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, mengatakan jalur laut saat ini merupakan opsi paling terbuka untuk mengirimkan bantuan menuju Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Ia meminta instansi terkait bekerja cepat memastikan pergerakan kapal berlangsung aman dan terkoordinasi dengan baik.

Untuk wilayah Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara, pengiriman bantuan sementara ini lebih memungkinkan dilakukan melalui jalur udara. Basarnas melaporkan 138 korban meninggal ditemukan dalam operasi lapangan, sementara 12 orang masih dalam pencarian. Beberapa daerah seperti Pidie, Lhokseumawe, Langsa, Nagan Raya, Aceh Barat, dan Aceh Timur telah dinyatakan tuntas proses evakuasinya.

Namun, akses menuju Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah masih terhambat akibat kondisi jalan rusak serta keterbatasan BBM.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menetapkan tiga prioritas distribusi logistik, yakni Aceh Tamiang, kawasan dataran tinggi Gayo hingga Aceh Tenggara, serta wilayah pantai barat dan utara. Jalur laut menjadi andalan, termasuk rencana pemanfaatan kapal nelayan dan boat kecil untuk suplai logistik ke wilayah pesisir utara.

Dinas PUPR juga melaporkan adanya lebih dari 80 titik longsor di jalur vital seperti ruas Gunung Salak menuju Takengon, serta beberapa ruas yang putus total. Enam unit jembatan semi rangka baja disiapkan untuk dipasang, namun proses pengerjaannya diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 20 hari.

Sekda meminta Dinas PUPR memprioritaskan pemasangan jembatan tersebut pada dua titik putus di Juli, Kabupaten Bireuen, serta pada jalur Bener Meriah–Takengon. Ia menyebut bahwa pengerjaan jembatan dapat berjalan paralel dengan upaya menerobos jalur dari Simpang KKA menuju Takengon.

Dikutip dari metrotvnews.com