Harga minyak dunia naik tajam pada perdagangan awal pekan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan yang dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Israel pada akhir pekan memicu kekhawatiran pasar energi global akan meluasnya konflik di kawasan tersebut.
Mengutip Investing.com pada Senin (30/3/2026), harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional melonjak 2,2 persen menjadi USD115,08 per barel. Bahkan pada awal perdagangan, harga sempat menyentuh level USD116,43 per barel.
Kenaikan harga minyak dunia ini terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel. Kelompok tersebut juga menyatakan akan terus melakukan serangan lanjutan.
Keterlibatan Houthi dalam konflik meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi perang di Timur Tengah. Pasalnya, kelompok tersebut memiliki kemampuan untuk menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah, salah satu jalur perdagangan penting bagi distribusi energi global.
Selain itu, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga terus meningkat. Teheran bahkan menyatakan siap menghadapi kemungkinan operasi darat dari pasukan Amerika Serikat.
Di sisi lain, militer Israel dilaporkan menyerang sejumlah target di ibu kota Iran selama akhir pekan. Sementara itu, Amerika Serikat mengumumkan pengerahan tambahan sekitar 3.500 tentara ke kawasan Timur Tengah yang ditempatkan di kapal perang USS Tripoli.
Lonjakan harga minyak juga dipicu gangguan pasokan global. Sepanjang Maret, harga minyak Brent tercatat telah naik hampir 60 persen sejak dimulainya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Situasi semakin memanas setelah Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menyuplai sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Pakistan menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran setelah Washington mengusulkan gencatan senjata.
Namun, pemerintah Iran sejauh ini menolak gagasan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat dan menuduh Washington diam-diam merencanakan invasi darat dalam waktu dekat.
