Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) dan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada sejumlah wilayah.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memantau langsung kualitas udara di sejumlah titik Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.
Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2,5 di beberapa area luar ruangan masih berada di atas batas aman. Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, konsentrasi PM2,5 mencapai 63 µg/m³, sedangkan batas aman berada di 25 µg/m³.
Dante mengatakan meski aktivitas penerbangan telah berjalan berdasarkan hasil paper test, kualitas udara tetap perlu diperhatikan dari sisi kesehatan masyarakat. Partikel PM2,5 juga tidak selalu terlihat secara kasatmata dan dapat masuk hingga ke paru-paru.
Kemenkes mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota. Sebanyak 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0-5 tahun dan 12.988 kasus pada usia di atas 5 tahun.
Dante mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara belum membaik dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikulat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan penyakit tertentu diminta lebih membatasi aktivitas di luar rumah dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
