Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 2 September 2026.
Mengacu data Bloomberg hingga pukul 09.28 WIB, rupiah berada di level Rp17.766 per dolar AS. Mata uang Garuda bergerak melemah di tengah tekanan sentimen global dan meningkatnya perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.722 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.740 per USD hingga Rp17.790 per USD,” ujar Ibrahim dalam analisis hariannya.
Konflik Timur Tengah Beri Tekanan pada Pasar
Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar keuangan global.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran serta pasokan minyak global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Upaya sejumlah mediator untuk mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut juga masih menjadi perhatian pasar. Risiko terhadap aktivitas pelayaran semakin meningkat setelah adanya laporan insiden terhadap kapal tanker di kawasan tersebut.
Situasi geopolitik yang memanas berpotensi mendorong volatilitas di pasar keuangan dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven.
Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed
Selain konflik geopolitik, pasar juga menantikan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga.
Menurut CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 66 persen terjadinya kenaikan suku bunga pada September. Ekspektasi tersebut turut mendukung penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Pelaku pasar pada Rabu juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings. Sementara perhatian utama pekan ini tertuju pada data Nonfarm Payrolls atau NFP yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.
PMI Manufaktur Indonesia Kembali Kontraksi
Dari dalam negeri, sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026.
S&P Global Indonesia Manufacturing PMI tercatat turun menjadi 49,8 pada Agustus dari 50,2 pada Juli 2026. Angka di bawah level 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada dalam fase kontraksi.
Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh penurunan output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi serta ketenagakerjaan sektor manufaktur tercatat mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Sementara itu, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19 persen, sedangkan inflasi tahun kalender berada di level 1,86 persen.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD120 juta pada Juli 2026. Nilai ekspor Indonesia mencapai USD26,22 miliar atau meningkat 6,05 persen secara tahunan.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arah kebijakan The Fed, serta rilis sejumlah data ekonomi penting.
