Sejumlah badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM) melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada akhir Juli 2026. Penurunan harga terutama terjadi pada BBM jenis diesel atau solar nonsubsidi yang dijual oleh Pertamina, Shell Indonesia, hingga BP-AKR.
Penyesuaian harga tersebut berlaku mulai 1 Juli 2026 dan masih berlaku untuk periode 27-31 Juli 2026. Penurunan harga ini memberikan angin segar bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan pengguna kendaraan bermesin diesel.
Di wilayah Jabodetabek, Pertamina menurunkan harga Dexlite (CN 51) menjadi Rp19.700 per liter dari sebelumnya Rp23.000 per liter pada Juni 2026. Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) kini dibanderol Rp21.150 per liter, turun dari Rp24.800 per liter.
Tak hanya BBM diesel, Pertamina juga memangkas harga Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter.
Shell Indonesia turut menyesuaikan harga Shell V-Power Diesel menjadi Rp21.340 per liter dari sebelumnya Rp24.490 per liter. Penurunan serupa juga dilakukan BP-AKR yang memangkas harga BP Ultimate Diesel dari Rp25.060 per liter menjadi Rp21.340 per liter.
Daftar Harga BBM Nonsubsidi per 27-31 Juli 2026
Pertamina
- Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter
- Pertamax Green (RON 95): Rp17.000 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp19.300 per liter
- Dexlite (CN 51): Rp19.700 per liter
- Pertamina Dex (CN 53): Rp21.150 per liter
Shell Indonesia
- Shell V-Power Diesel: Rp21.340 per liter
Untuk sementara, Shell Super (RON 92), Shell V-Power (RON 95), dan Shell V-Power Nitro+ (RON 98) masih belum tersedia.
BP-AKR
- BP 92: Rp16.670 per liter
- BP Ultimate: Rp17.240 per liter
- BP Ultimate Diesel: Rp21.340 per liter
Vivo
- Revvo 92: Rp16.670 per liter
- Revvo 95: Rp17.240 per liter
- Diesel Primus: Rp21.340 per liter
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini diharapkan dapat membantu menekan biaya operasional, terutama bagi pengguna kendaraan diesel di sektor logistik, transportasi, maupun industri. Masyarakat juga diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari masing-masing operator SPBU karena harga BBM dapat berubah mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan kebijakan yang berlaku.
