Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Pelemahan terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait arah kebijakan suku bunga acuan.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.45 WIB, rupiah berada di level Rp17.911 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.888 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.904 per dolar AS pada waktu yang sama.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh mulai meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga sentimen pasar terhadap aset domestik.
Pendapatan Negara Tembus Rp1.459,4 Triliun
Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 turut menjadi perhatian pelaku pasar. Hingga pertengahan tahun, pendapatan negara tercatat mencapai Rp1.459,4 triliun atau setara 46,3 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.
Pencapaian tersebut didukung oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, penguatan pengawasan dan tata kelola perpajakan serta kepabeanan, hingga peningkatan layanan kementerian/lembaga dan badan layanan umum (BLU).
Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp1.187,8 triliun atau 44,1 persen dari target Rp2.693,7 triliun. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp1.035,7 triliun, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp152 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) telah mencapai Rp271 triliun atau 59 persen dari target sebesar Rp459,2 triliun.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN 2026, meningkat 17,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Belanja pemerintah pusat terealisasi sebesar Rp1.298,6 triliun, terdiri atas belanja kementerian/lembaga sebesar Rp658,9 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga sebesar Rp639,7 triliun.
Sementara itu, transfer ke daerah telah mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari target Rp693 triliun.
Dengan perkembangan tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Di sisi lain, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp85,1 triliun.
Lukman menilai membaiknya kondisi fiskal berhasil meredakan kekhawatiran investor yang sebelumnya memperkirakan defisit APBN berpotensi melampaui batas aman.
Pasar Menunggu Keputusan BI Rate
Selain faktor fiskal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026. Investor mengantisipasi potensi kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50 bps pada Mei 2026, yang menjadi penyesuaian pertama sejak suku bunga acuan bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.
Bank sentral kemudian kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps pada RDG 9 Juni 2026. Setelah kebijakan tersebut, rupiah secara bertahap kembali menguat hingga bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Pengetatan kebijakan moneter kembali berlanjut pada RDG 18 Juni 2026, ketika BI menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan terbaru Bank Indonesia, termasuk arah kebijakan moneter dan pandangan bank sentral terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
