Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak menyiapkan langkah intervensi khusus untuk merespons tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menjadi faktor utama yang dapat menopang pergerakan pasar saham dalam jangka panjang.
Purbaya menilai kondisi perekonomian nasional masih berada dalam jalur yang positif dan terus menunjukkan perbaikan. Ia meyakini berbagai indikator ekonomi yang solid akan menjadi dasar penilaian investor terhadap harga saham di pasar modal.
Optimisme tersebut didukung sejumlah indikator ekonomi, di antaranya tingkat inflasi Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan dan masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Selain itu, penerimaan pajak hingga akhir April 2026 mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Purbaya, koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini lebih dipengaruhi kekhawatiran jangka pendek akibat berbagai sentimen negatif di dalam negeri. Pemerintah, kata dia, akan terus menjaga stabilitas ekonomi serta sentimen pasar agar tetap kondusif.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan Kamis pagi tercatat melemah tajam lebih dari 4 persen ke level 5.694,91. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai penurunan tersebut mencerminkan krisis kepercayaan investor yang dipicu kombinasi sentimen domestik dan berlanjutnya arus keluar dana asing. Menurutnya, pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap sejumlah kebijakan ekonomi turut menekan minat investor terhadap aset berisiko di Indonesia.
