Jakarta – Badan Standardisasi Nasional (BSN) resmi menetapkan tiga Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru di bidang kosmetik. Tiga standar ini mencakup metode pengujian kadar Dioxane, Dietilen Glikol, Etilen Glikol, serta enumerasi dan deteksi bakteri aerob mesofil untuk memastikan keamanan produk kosmetik yang beredar di Indonesia.
Direktur Pengembangan Standar Agro Kimia Kesehatan BSN, Heru Suseno, menjelaskan bahwa BSN bersama BPOM saat ini tengah mendorong salah satu standar pengujian—yakni SNI pengujian Dioxane—agar dapat diakui sebagai standar internasional BIS. Proses harmonisasi standar, kata Heru, sangat penting untuk memastikan SNI Indonesia dapat diterapkan secara global.
“Karena standar ini akan menjadi acuan nanti seluruh dunia. Sehingga kita harus memastikan bahwa standar ini bisa diaplikasikan di seluruh dunia,” ujar Heru selepas acara Pencatatan Rekor MURI Baku Pembanding dan Launching SNI Kosmetik di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).
Heru menambahkan bahwa standar tersebut rencananya akan dibahas dalam pertemuan internasional di Madrid, Spanyol, sebagai bagian dari proses pengakuan global. Ia berharap SNI kosmetik Indonesia dapat diterapkan secara luas di Eropa, Amerika, Australia, hingga Afrika.
Sementara itu, Ketua BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa penguatan standar baku pembanding menjadi langkah penting menuju pengakuan internasional. Saat ini BPOM tengah menanti hasil penilaian WHO-Listed Authority (WLA) sebagai standar global lembaga obat dan makanan.
“Dalam konteks BPOM kita sekarang lagi menuju WLA (WHO-Listed Authority), kita harap-harap cemas menunggu hasilnya. Semoga hasil sidang WHO nanti bisa positif,” ujar Ikrar.
Taruna Ikrar berharap proses akreditasi internasional melalui WHO serta pembahasan standar di Madrid dapat memperkuat posisi Indonesia dalam industri kosmetik global. Dikutip dari RRI.co.id.
