Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali pekan ini di zona merah pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Rupiah dibuka terkoreksi 21 poin atau setara 0,12 persen ke posisi Rp17.903 per USD, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.882 per USD.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menuturkan bahwa dinamika rupiah melemah 5 oktober 2026 ini bergerak di tengah tarik-menarik antara melandainya ekspektasi suku bunga The Fed dan memanasnya risiko geopolitik global.
Penurunan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Ibrahim menjelaskan, tekanan terhadap mata uang kawasan sejatinya sempat tertahan oleh melandainya proyeksi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini dipicu oleh rilis data inflasi AS yang berada di bawah estimasi pasar:
- Indeks Harga PCE Utama: Tumbuh 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus, lebih rendah dari proyeksi konsensus sebesar 3,7 persen.
- Indeks Harga PCE Inti: Naik 3,0 persen (yoy), membaik dari posisi Juli (3,3 persen) serta di bawah ekspektasi pasar 3,3 persen. Secara bulanan (month-to-month), PCE inti tumbuh 0,2 persen.
- Probabilitas Suku Bunga: Data inflasi yang melandai menekan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menjadi hanya 26 persen, turun drastis dari 69 persen pada pekan sebelumnya.
Ancaman Eskalasi Konflik AS-Iran dan Risiko Inflasi Energi
Di sisi lain, penguatan nilai tukar terhambat oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam bakal melancarkan serangan terhadap Iran pada November mendatang—pascapemilihan umum paruh waktu AS—memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” pungkas Ibrahim.
