Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mencatat pelemahan tipis. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.58 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.687 per dolar AS, atau melemah 11 poin atau 0,07 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp16.676 per dolar AS. Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada waktu yang sama diperdagangkan di level Rp16.672 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan cenderung fluktuatif, namun dengan kecenderungan melemah. Dalam pandangannya, rupiah diperkirakan ditutup di kisaran Rp16.670 hingga Rp16.710 per dolar AS.
Pelemahan rupiah disebut dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed). Pasar memperkirakan peluang sebesar 87 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 10 Desember mendatang. Ekspektasi ini didorong oleh harapan inflasi AS yang lebih rendah, serta hasil data ketenagakerjaan yang dinilai dapat mendukung kebijakan pelonggaran tersebut.
Namun, investor dinilai masih berhati-hati karena sinyal beragam dari para pembuat kebijakan The Fed. Ketidakpastian soal kekuatan ekonomi AS menimbulkan kemungkinan bahwa siklus penurunan suku bunga akan dilakukan secara lebih bertahap.
Di sisi lain, Bank Dunia mengingatkan meningkatnya utang luar negeri jangka pendek Indonesia yang terjadi pada 2024. Dalam laporan International Debt Report 2025, Bank Dunia mencatat lonjakan utang jangka pendek Indonesia mencapai 29,1 persen atau senilai USD65,12 miliar, naik dari USD50,45 miliar pada tahun sebelumnya.
Lonjakan tersebut dipicu agresivitas penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menarik masuknya modal asing. Bahkan, Bank Dunia menyebut hampir separuh dari arus masuk utang jangka pendek kawasan Asia Timur dan Pasifik pada 2024 berasal dari Indonesia.
Secara total, stok utang luar negeri Indonesia pada tahun tersebut tercatat sebesar USD421,05 miliar, atau setara dengan 135 persen dari total ekspor dan 31 persen dari pendapatan nasional bruto (GNI).
Dengan tekanan eksternal yang masih kuat serta perhatian global terhadap kondisi utang Indonesia, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan penuh tantangan dalam waktu dekat.
Dikutip dari metrotvnews.com
