Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,0 persen pada 2025, didorong oleh peningkatan kuat di sektor jasa, konstruksi, dan ekspor, termasuk ke Amerika Serikat, meski terdapat tarif baru. Data tersebut disampaikan oleh Kantor Statistik Umum Vietnam (GSO), dikutip dari Daily Sabah, Senin (12/1/2026).
PDB Vietnam pada 2025 diperkirakan mencapai 8,02 persen, angka tertinggi sejak 2022. Nilai ekspor ke AS melonjak 28 persen menjadi USD153,2 miliar, sementara total ekspor negara tersebut naik 17 persen menjadi USD475 miliar. Impor Vietnam juga meningkat 19 persen menjadi USD455 miliar, menjadikan Tiongkok sebagai sumber impor terbesar.
Pada April 2025, AS memberlakukan tarif baru terhadap produk Vietnam, termasuk pakaian dan sepatu. Namun, perundingan bilateral berhasil menurunkan tarif minimum menjadi 20 persen pada Juli, setelah Hanoi membuka pasar bagi produk-produk AS, termasuk mobil.
Chad Ovel, mitra Mekong Capital, menyatakan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan fundamental ekonomi Vietnam yang kuat, dukungan pemerintah terhadap sektor swasta, konsumsi domestik yang tinggi, serta investasi bisnis dan pengeluaran pemerintah yang stabil.
Sektor industri dan konstruksi tumbuh hampir sembilan persen, sedangkan sektor jasa meningkat 8,6 persen. Pada kuartal keempat 2025, ekonomi Vietnam tumbuh 8,46 persen secara tahunan, mencatat pertumbuhan tertinggi kuartal IV sejak 2011.
Setelah mengalami pertumbuhan di atas lima persen pada 2023 dan lebih dari tujuh persen pada 2024, Vietnam menargetkan laju pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen pada 2026 dan berambisi meraih status negara berpenghasilan menengah pada 2030.
Dikutip dari metrotvnews.com
