Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, seiring investor mencari aset yang lebih aman menyusul ancaman tarif impor Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.
Dikutip dari Investing.com, Selasa, 20 Januari 2026, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tercatat turun 0,2 persen ke level 99,050.
Pelemahan dolar terjadi setelah Trump menyatakan akan memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang-barang asal Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut bahkan disebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni mendatang jika tidak tercapai kesepakatan yang memungkinkan Amerika Serikat menguasai Greenland, wilayah semi-otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark.
Laporan media menyebutkan Uni Eropa tengah mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali paket tarif balasan senilai 93 miliar euro terhadap produk-produk asal Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan hubungan transatlantik serta memperbesar risiko konflik perdagangan yang lebih luas.
Tekanan terhadap dolar AS relatif terbatas mengingat pasar keuangan Amerika Serikat sedang libur dalam rangka peringatan Hari Martin Luther King Jr. Meski demikian, investor tetap mencermati implikasi jangka panjang dari kebijakan tarif terbaru pemerintahan Trump terhadap stabilitas dolar AS.
Analis ING dalam catatan risetnya menyebutkan masih terlalu dini untuk mengangkat kembali tema “jual Amerika”. Menurut mereka, upaya Washington untuk menguasai Greenland, seperti halnya kebijakan tarif besar sebelumnya, kerap dipandang sebagai retorika keras sebelum berujung pada jalur diplomasi.
Meski demikian, ING menilai perkembangan ini berpotensi menambah volatilitas di tengah kondisi pasar global yang sebelumnya relatif tenang.
Di pasar Eropa, pasangan EUR/USD menguat 0,3 persen ke level 1,1630. Penguatan euro didorong oleh meningkatnya premi risiko politik terhadap dolar AS. Data inflasi tahunan zona euro untuk Desember diperkirakan akan dikonfirmasi di level 2,0 persen, sesuai target Bank Sentral Eropa (ECB) untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2025.
ECB sendiri telah mempertahankan suku bunga acuannya sejak mengakhiri siklus pemangkasan suku bunga pada Juni lalu dan memberi sinyal belum terburu-buru untuk mengubah arah kebijakan moneternya.
Sementara itu, GBP/USD menguat tipis 0,2 persen ke level 1,3403. Poundsterling berpotensi bergerak volatil seiring rilis data pengangguran dan inflasi Inggris dalam pekan ini. ING menilai rangkaian data ekonomi tersebut berpotensi memberi sentimen positif bagi sterling.
Di kawasan Asia, USD/JPY melemah tipis ke level 158,05, dengan yen Jepang mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Adapun USD/CNY turun 0,1 persen ke level 6,9636, menyentuh level terendah sejak Mei 2023 setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV 2025 sedikit melampaui ekspektasi pasar.
Sementara itu, AUD/USD menguat 0,2 persen ke level 0,6696 dan NZD/USD naik 0,4 persen ke posisi 0,5774.
Dikutip dari metrotvnews.com
