Makna Jeruk Mandarin dalam Tradisi Perayaan Imlek

Makna Jeruk Mandarin dalam Tradisi Perayaan Imlek

Jeruk mandarin identik dalam tradisi perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai komunitas Tionghoa, termasuk di Indonesia. Buah ini dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan harapan baik yang menyertai datangnya tahun baru.

Dalam bahasa Mandarin, kata jeruk dilafalkan sebagai jú (橘), yang terdengar mirip dengan kata jí (吉) yang berarti keberuntungan. Kesamaan bunyi tersebut membuat jeruk mandarin dipercaya membawa rezeki, kemakmuran, dan nasib baik bagi siapa pun yang menerimanya.

Selain dari pelafalan, warna oranye cerah pada jeruk mandarin juga memiliki makna simbolis. Warna tersebut menyerupai emas yang melambangkan kekayaan, stabilitas ekonomi, serta kesejahteraan keluarga. Tak hanya itu, bentuk jeruk yang bulat dimaknai sebagai simbol keutuhan, persatuan, dan keharmonisan hubungan keluarga.

Di Indonesia, jeruk mandarin kerap diberikan kepada tamu saat perayaan Imlek sebagai bentuk doa dan penghormatan. Dalam tradisi keluarga Tionghoa, pemberian dua buah jeruk kepada tamu atau kerabat melambangkan harapan akan keberuntungan ganda. Tradisi ini juga mencerminkan nilai sosial dalam budaya Tionghoa, di mana niat baik disampaikan melalui simbol tanpa harus diucapkan secara langsung.

Jeruk mandarin tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga digunakan sebagai bagian dari persembahan. Penempatan jeruk di altar keluarga melambangkan doa serta harapan akan keberkahan, perlindungan, dan rezeki yang berkelanjutan bagi anggota keluarga.

Pada dasarnya, perayaan Imlek sarat dengan simbol dan makna filosofis, bahkan dalam elemen-elemen terkecil. Makna simbolis pada setiap hidangan menjadikan makanan khas Imlek tidak sekadar santapan, tetapi juga wujud doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Dikutip dari RRI.co.id