Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa rencana pemasangan catra di Candi Borobudur masih berada dalam tahap pembahasan dan kajian mendalam. Proses tersebut disebut akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk aspirasi masyarakat dan khususnya umat Buddha.
Fadli menjelaskan bahwa pemasangan catra tersebut akan dilakukan pada waktu yang tepat setelah seluruh tahapan kajian dan diskusi terpenuhi. Ia menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang dialog melalui forum diskusi kelompok (FGD) bersama para ahli, seperti sejarawan, budayawan, dan arkeolog.
Menurutnya, rencana ini merupakan bagian dari konsep living heritage yang juga didorong oleh UNESCO, yakni pendekatan yang memandang situs budaya sebagai warisan yang hidup dan terus berkembang bersama masyarakat, bukan sekadar monumen statis.
Ia juga menegaskan bahwa catra yang direncanakan dipasang di Borobudur akan menggunakan material perunggu, bukan batu seperti struktur asli candi. Material tersebut dinilai lebih ringan serta umum digunakan di berbagai situs Buddha dunia, termasuk di India, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.
Meski demikian, pemasangan diperkirakan belum dapat dilakukan sebelum perayaan Waisak tahun ini karena masih harus melewati sejumlah tahapan, termasuk kajian dampak dan uji kelayakan.
Fadli menambahkan bahwa inisiatif ini juga bertujuan menjawab aspirasi komunitas umat Buddha yang telah lama disampaikan, sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan Borobudur sebagai destinasi wisata religi dan sejarah.
Pemerintah berharap konsep living heritage ini dapat menjadikan Candi Borobudur tidak hanya sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai pusat kegiatan spiritual dan budaya yang hidup serta berkelanjutan.
