Harga emas diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring belum kuatnya sinyal pembalikan tren di pasar. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai peluang pelemahan masih terbuka setelah logam mulia gagal mempertahankan momentum penguatan yang sempat terjadi sebelumnya.
Menurut Geraldo, berdasarkan analisis teknikal dan fundamental, arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish selama harga belum mampu menembus area resistance utama di level USD4.220 per troy ons.
Pada timeframe harian (daily), harga emas dinilai gagal ditutup di atas level resistance tersebut. Kondisi itu menjadi indikasi melemahnya tekanan beli dan kembali dominannya aksi jual di pasar. Selain itu, terbentuknya swing high baru semakin memperkuat sinyal bahwa tren kenaikan sebelumnya mulai kehilangan momentum.
“Pergerakan harga masih menunjukkan struktur bearish. Selama belum ada breakout yang mampu membawa harga kembali ke atas resistance utama, potensi pelemahan masih perlu diwaspadai,” ujar Geraldo dalam analisis hariannya, Selasa.
Ia menjelaskan, selama harga masih bergerak di bawah level resistance tersebut, target penurunan terdekat berada di area support USD4.120 per troy ons. Apabila tekanan jual semakin meningkat dan support tersebut berhasil ditembus, harga emas berpotensi melanjutkan koreksi menuju level support berikutnya di kisaran USD4.024 per troy ons.
Dari sisi teknikal, indikator Moving Average (MA) periode 21 dan 50 masih menunjukkan kecenderungan menurun. Posisi harga yang bertahan di bawah kedua garis MA tersebut menandakan tren utama masih berada dalam fase bearish. Dalam kondisi seperti itu, setiap kenaikan harga dinilai berpotensi hanya menjadi koreksi sementara sebelum melanjutkan tren penurunan.
Meski demikian, indikator stochastic saat ini telah memasuki area oversold atau jenuh jual. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya rebound teknikal apabila muncul konfirmasi pembalikan arah di area support. Namun, selama belum terdapat sinyal teknikal yang lebih kuat, ruang kenaikan dinilai masih terbatas.
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari faktor fundamental global. Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pergerakan logam mulia. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung menurun.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield turut mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya kurang diminati ketika investor memiliki alternatif investasi dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Pasar juga masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
Di sisi lain, membaiknya optimisme terhadap perekonomian global turut mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan potensi keuntungan lebih besar ketika kondisi ekonomi dinilai lebih stabil.
Meski demikian, risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor yang dapat membatasi pelemahan harga emas. Jika muncul sentimen baru yang meningkatkan kekhawatiran pasar, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai berpotensi kembali meningkat.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif. Kegagalan menembus resistance USD4.220 per troy ons, terbentuknya swing high baru, serta posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average memperkuat sinyal bearish yang saat ini mendominasi pasar.
