Dolar AS Bukukan Penguatan Mingguan Terbaik sejak Juni

Dolar AS Bukukan Penguatan Mingguan Terbaik sejak Juni

Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur mencatatkan kinerja mingguan terbaik dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Jumat waktu setempat. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Investing.com, Sabtu (25/7/2026), indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia naik tipis ke level 101,49. Secara mingguan, indeks tersebut menguat 0,7 persen, menjadi kenaikan terbesar sejak 19 Juni 2026.

Sementara itu, berdasarkan data Xinhua, euro melemah ke level USD1,1370 dari sebelumnya USD1,1377. Sebaliknya, poundsterling Inggris menguat tipis menjadi USD1,3326 dari USD1,3318.

Dolar AS juga diperdagangkan pada level 163,84 yen Jepang, sedikit lebih tinggi dibandingkan 163,80 yen pada sesi sebelumnya.

Terhadap franc Swiss, dolar menguat menjadi 0,8182 franc dari 0,8169 franc. Mata uang AS juga terapresiasi terhadap dolar Kanada menjadi 1,4096 dolar Kanada dari sebelumnya 1,4076 dolar Kanada.

Di sisi lain, dolar AS justru melemah terhadap krona Swedia menjadi 9,7158 dari sebelumnya 9,7663.

Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven

Penguatan dolar AS sepanjang pekan dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi dan risiko geopolitik setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus level USD100 per barel pada Kamis, untuk pertama kalinya sejak Mei 2026. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak acuan global tersebut telah melonjak lebih dari 25 persen.

Kenaikan harga minyak dipicu serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Bab el-Mandeb, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Selain itu, konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Komando Pusat Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 13 malam berturut-turut.

Sebagai respons, Iran dilaporkan menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Di sisi lain, ketegangan perdagangan juga turut menopang penguatan dolar AS setelah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor baru terhadap puluhan mitra dagang utama Amerika Serikat, termasuk tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap Kanada.

Pasar Menanti Keputusan The Fed

Fokus pelaku pasar kini beralih pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga semakin menguat seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik sekitar 14 basis poin sepanjang pekan, sedangkan obligasi tenor dua tahun meningkat lebih dari 16 basis poin.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang turun menjadi sekitar 62 persen, dari sekitar 87 persen pada pekan sebelumnya.

Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi hampir 38 persen, dibandingkan sekitar 13 persen sepekan lalu.

Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, menilai peluang kenaikan suku bunga masih terbuka meskipun tren disinflasi di Amerika Serikat tetap berlanjut.

Menurutnya, inflasi berpotensi kembali melandai apabila ketegangan di Timur Tengah mereda dan harga minyak kembali stabil.

Torres juga menilai obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor panjang masih menarik bagi investor apabila lonjakan harga minyak saat ini hanya bersifat sementara.

Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan moneter The Fed, serta pergerakan harga minyak dunia, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan pasar keuangan internasional.