Bitcoin berbalik menguat pada Selasa, 7 April 2026, setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Aset kripto terbesar di dunia itu mendapat dukungan sentimen setelah Pakistan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperpanjang tenggat waktu yang diberikan kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, pasar sempat berada dalam tekanan akibat minimnya kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan keras Trump yang mengancam akan menghancurkan “peradaban” Iran jika tidak ada kesepakatan juga turut memicu kekhawatiran investor.
Dilansir dari Investing.com pada Rabu, 8 April 2026, Bitcoin terakhir tercatat naik 0,5 persen ke level USD69.845,4.
Fokus pasar tertuju pada data inflasi AS
Lonjakan harga energi yang dipicu potensi penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini juga mendorong sebagian investor beralih ke aset safe-haven tradisional seperti dolar Amerika Serikat.
Seiring waktu, Bitcoin semakin diperdagangkan mengikuti sentimen risiko global. Ketidakpastian geopolitik kini membayangi optimisme pasar yang sebelumnya muncul dari harapan kemajuan diplomatik antara AS dan Iran.
Perhatian investor juga tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat, khususnya laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk Maret yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Kenaikan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah diperkirakan dapat mendorong inflasi lebih tinggi.
Jika inflasi meningkat, ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi dalam waktu lebih lama juga akan semakin kuat. Situasi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi Bitcoin, yang biasanya kurang diuntungkan dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Menurut analis Nexo, Kalchev, guncangan harga energi membuat data inflasi pekan ini menjadi sangat penting bagi pasar kripto.
“Dengan guncangan energi yang masih memengaruhi harga, setiap data inflasi pekan ini memiliki bobot besar bagi kripto. Angka yang lebih rendah dapat membuka peluang pembicaraan mengenai penurunan suku bunga, sementara angka yang lebih tinggi memperkuat narasi suku bunga tinggi lebih lama,” ujarnya.
ETF Bitcoin catat arus masuk terbesar sejak Februari
Di sisi lain, dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin mencatat arus masuk harian terbesar sejak akhir Februari pada Senin.
Investor tampak mulai memposisikan diri menjelang tenggat waktu yang diberikan kepada Iran terkait Selat Hormuz. Secara total, ETF Bitcoin mencatat arus masuk sebesar USD471,3 juta.
ETF milik BlackRock, IBIT, mencatat arus masuk terbesar yakni USD181,9 juta. Sementara itu, FBTC milik Fidelity dan ARKB juga mencatat arus masuk signifikan masing-masing sebesar USD147,3 juta dan USD118,8 juta, menurut data SoSoValue.
Menariknya, tidak ada ETF Bitcoin yang mencatat arus keluar pada hari tersebut.
Altcoin ikut menguat mengikuti Bitcoin
Kenaikan Bitcoin turut diikuti oleh sebagian besar aset kripto lainnya pada Selasa. Ethereum, yang merupakan kripto terbesar kedua di dunia, naik tipis 0,1 persen ke level USD2.141,62.
Sementara itu, XRP yang berada di peringkat ketiga juga mencatat kenaikan 0,1 persen menjadi USD1,3366.
Beberapa altcoin lainnya bahkan mencatat kenaikan lebih tinggi. Solana naik 1,7 persen, sementara Cardano menguat 0,4 persen.
Di segmen token meme, Dogecoin turut mencatat penguatan sebesar 1,6 persen mengikuti sentimen positif di pasar kripto secara keseluruhan.
