Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan terbaru seiring meningkatnya harapan de-eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut kembali memicu minat investor terhadap aset safe haven seperti emas di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, pergerakan emas dengan pasangan XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bullish dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyampaikan bahwa secara teknikal tren penguatan emas didukung oleh kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average pada timeframe satu jam (H1).
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan tekanan beli masih mendominasi pergerakan harga emas dalam perdagangan terbaru.
Pergerakan harga emas terbaru
Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga emas sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level USD4.482. Namun, harga logam mulia tersebut kemudian berbalik arah dan diperdagangkan di kisaran USD4.648.
Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap sentimen geopolitik yang mulai mereda. Hal ini terjadi setelah Presiden Iran mengindikasikan kesiapan untuk mengakhiri konflik dengan syarat adanya jaminan keamanan.
Di sisi lain, laporan juga menyebutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang penghentian kampanye militer terhadap Iran. Meski demikian, jalur strategis seperti Selat Hormuz disebut belum sepenuhnya pulih.
Pernyataan pejabat pertahanan Amerika Serikat yang menegaskan bahwa pembicaraan damai tengah berlangsung aktif semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap stabilitas geopolitik dalam waktu dekat.
“Selama tekanan bullish berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance di USD4.862. Namun, jika terjadi koreksi, maka area support terdekat berada di kisaran USD4.539,” ujar Andy Nugraha dalam risetnya, Rabu, 1 April 2026.
Ditopang penurunan imbal hasil obligasi
Dari sisi fundamental, penguatan harga emas juga didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 4,31 persen, yang berdampak pada pelemahan dolar AS.
Indeks Dolar AS (DXY) terpantau melemah ke level 99,91 sehingga meningkatkan daya tarik emas bagi investor global.
Selain faktor geopolitik dan pergerakan dolar, pasar juga mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan adanya pelemahan di pasar tenaga kerja yang tercermin dari penurunan jumlah lowongan pekerjaan.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai melambat.
“Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama. Peningkatan harga energi mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi, yang diperkuat oleh pernyataan pejabat Federal Reserve yang menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Sikap tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga ke depan,” jelas Andy.
Prospek harga emas ke depan
Dengan kombinasi faktor teknikal yang mendukung serta dinamika fundamental yang kompleks, harga emas diperkirakan akan bergerak volatil dalam waktu dekat. Namun, arah pergerakan masih cenderung menguat selama sentimen pasar tetap kondusif.
Andy Nugraha juga mengingatkan investor untuk terus mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi.
Dikutip dari metrotvnews.com
