Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan pertengahan pekan ini. Pada Rabu, 14 Januari 2026, logam mulia berhasil berbalik arah dan ditutup menguat di kisaran USD4.615 per troy ons, naik sekitar 0,65 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat secara luas serta meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa penguatan emas terjadi meskipun data inflasi Amerika Serikat masih memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Kondisi ini menciptakan tarik-menarik antara kebijakan moneter dan sentimen risiko global.
Dari sisi teknikal, Andy menilai struktur pergerakan emas saat ini berada dalam kondisi yang sangat konstruktif. Kombinasi pola candlestick dan indikator moving average menunjukkan tren bullish yang semakin menguat. Harga emas juga mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan utama, menandakan dominasi pembeli masih kuat.
Dalam proyeksi jangka pendek, emas berpotensi melanjutkan reli menuju area USD4.650 apabila tekanan bullish tetap terjaga. Level tersebut menjadi target lanjutan setelah harga mendekati rekor tertingginya. Meski demikian, Andy mengingatkan bahwa pergerakan harga di dekat puncak historis rentan terhadap aksi ambil untung. Jika terjadi koreksi, zona USD4.565 diperkirakan menjadi area support terdekat.
Dari sisi fundamental, kenaikan harga emas turut ditopang meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan terkait penindasan demonstran di Iran. Amerika Serikat dilaporkan memindahkan sebagian staf militernya, sementara pemerintah Iran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak terlibat dalam potensi serangan.
Situasi tersebut mendorong investor mencari aset perlindungan. Dalam kondisi ketidakpastian global, emas secara historis menjadi pilihan utama sebagai instrumen lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve juga meningkatkan daya tarik emas. Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan adanya surat panggilan dari Departemen Kehakiman AS terkait kesaksiannya mengenai pembengkakan biaya renovasi gedung Federal Reserve. Isu tersebut dinilai dapat mengguncang kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter AS.
Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen pada Desember, diikuti kenaikan harga produsen dan penjualan ritel. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi dapat dipertahankan lebih lama, yang secara teori berpotensi menekan emas.
Namun, pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS justru menjadi faktor penopang utama. Indeks Dolar AS tercatat turun ke kisaran 99,15, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melemah ke sekitar 4,14 persen, membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Andy menilai bias pasar terhadap emas masih cenderung positif. Selama dolar AS tetap tertekan dan risiko geopolitik belum mereda, harga emas berpeluang tetap berada dalam tren bullish dan berpotensi menguji kembali, bahkan melampaui, level tertinggi sebelumnya dalam waktu dekat.
Jika ingin, saya bisa menyesuaikan gaya penulisan agar lebih singkat untuk kanal ekonomi cepat, atau difokuskan pada sudut pandang investor dan trader.
Dikutip dari metrotvnews.com
