Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah memanasnya konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah, menilai masalah internal PBNU tidak boleh dibiarkan meluas karena dapat berdampak buruk bagi umat dan organisasi.
Said yang juga merupakan warga NU menyampaikan keyakinannya bahwa dengan keluasan hati, ikhtiar, dan tawakal, para ulama mampu menemukan jalan islah. “Kami para jam’iyah mendoakan hal itu segera terwujud,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Ia juga mengimbau para pendukung dan simpatisan untuk menahan diri serta tidak memperkeruh keadaan melalui media massa, media sosial, maupun forum pertemuan lainnya. Menurut Said, kabar mengenai konflik para masayih dan kiai dalam jajaran PBNU yang disertai aksi saling pecat sangat memprihatinkan.
Lebih disayangkan lagi, kata dia, konflik tersebut justru dipicu oleh persoalan pengelolaan tambang batu bara yang diberikan pemerintah kepada sejumlah organisasi kemasyarakatan, termasuk NU. “Suatu perkara duniawi yang sesungguhnya kecil sekali derajatnya untuk dijadikan sumber perpecahan,” tuturnya.
Sebagai pribadi yang tumbuh dalam tradisi nahdliyah, Said menegaskan pentingnya menjaga nilai tawadu’, tabayun, dan akhlaqul karimah sebagaimana diajarkan dalam kitab Ta’lim Muta’alim. Ia memohon agar para masayih, musytasar PBNU, serta para kiai sepuh berkenan menjadi jembatan dalam proses islah.
Said menekankan bahwa perpecahan di jajaran PBNU dapat merugikan bangsa. NU selama ini menjadi jangkar utama kekuatan Islam di Indonesia bersama Muhammadiyah, baik dalam pendidikan karakter, pelayanan sosial, maupun pemberdayaan ekonomi umat. Jika konflik berlarut-larut, energi PBNU dikhawatirkan akan habis tersedot untuk mengurusi perpecahan internal.
Menurutnya, jika langkah pemecatan terus diambil tanpa jalan islah, maka akan muncul luka dan perpecahan mendalam yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan keputusan organisasi. “Ujungnya adalah zero sum game—tak ada yang benar-benar menang,” tegasnya.
Di tengah situasi yang memanas, sejumlah Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari berbagai daerah mengeluarkan seruan agar PBNU mengutamakan islah dan tabayun. Mereka menilai musyawarah adalah tradisi organisasi yang harus dijaga. Bahkan beberapa PWNU meminta agar kepengurusan yang ada dibiarkan berjalan hingga Muktamar 2026 sembari membenahi persoalan internal secara bijak.
Seruan tersebut mencerminkan keprihatinan luas bahwa kegaduhan di pucuk pimpinan PBNU dapat menggerus kepercayaan publik dan melemahkan posisi organisasi menjelang Muktamar mendatang.
Dikutip dari antaranews.com
