Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9/2026). Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.512 per USD, turun satu poin atau 0,01 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.511 per USD.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp17.547 per USD. Posisi tersebut menguat dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya di level Rp17.613 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi kembali menguat hingga Rp17.480 per USD. Penguatan tersebut didukung sejumlah data ekonomi domestik yang menunjukkan kondisi positif.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli. Penjualan ritel mobil juga melonjak 7,7 persen menjadi 83.442 unit, yang dinilai memperkuat optimisme pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada kuartal III.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur turut menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus USD100 per barel. Namun, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak masih dapat diimbangi oleh fundamental ekonomi domestik.
“Pasar melihat data internal yang cukup bagus sehingga membuat pasar optimis arus modal asing kembali masuk ke dalam negeri,” kata Ibrahim.
