Harga bitcoin bergerak terbatas pada perdagangan Jumat waktu setempat dan diperkirakan hanya membukukan kenaikan tipis sepanjang pekan. Pergerakan mata uang kripto terbesar di dunia tersebut masih dibayangi kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip data Investing.com, Sabtu (18/7/2026), bitcoin naik 0,1 persen ke level USD64.003,1. Secara mingguan, aset digital tersebut juga hanya menguat sekitar 0,1 persen.
Sepanjang pekan, pergerakan bitcoin diwarnai tarik-menarik sentimen antara meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan aset safe haven akibat konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Komentar Pejabat The Fed Tekan Pergerakan Bitcoin
Pada awal pekan, bitcoin sempat menembus level USD65 ribu setelah data inflasi konsumen AS periode Juni menunjukkan perlambatan. Kondisi tersebut diperkuat oleh data inflasi produsen yang juga lebih rendah dari perkiraan sehingga sempat memunculkan harapan bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.
Namun, optimisme tersebut memudar setelah sejumlah pejabat bank sentral AS menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish.
Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, mendorong kenaikan suku bunga yang lebih tinggi guna memastikan inflasi kembali menuju target.
Pandangan tersebut sejalan dengan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang sebelumnya mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih berpotensi bertahan pada level tinggi.
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen, meski belum memberikan sinyal jelas mengenai langkah kebijakan selanjutnya.
Suku bunga yang tetap tinggi umumnya mengurangi daya tarik aset berisiko seperti mata uang kripto karena meningkatkan imbal hasil instrumen investasi yang lebih aman.
Konflik Timur Tengah Perburuk Sentimen Pasar
Sentimen negatif juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Militer Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Jumat, sementara media pemerintah Iran menyebut sejumlah infrastruktur, termasuk jembatan, menjadi sasaran serangan.
Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi.
Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat berpotensi bertahan pada level tinggi lebih lama, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap aset kripto.
Sejak konflik AS-Iran meningkat pada Februari 2026, bitcoin tercatat masih melemah sekitar 27 persen sepanjang tahun ini.
Altcoin Ikut Melemah
Selain bitcoin, mayoritas aset kripto alternatif (altcoin) juga mencatatkan pelemahan sepanjang pekan.
Ether turun 1,5 persen, XRP melemah 1,4 persen, Cardano terkoreksi 0,3 persen, BNB turun 1,4 persen, Solana merosot 3,8 persen, Dogecoin melemah 1,9 persen, sementara token TRUMP mencatat penurunan terbesar di antara aset utama dengan koreksi 4,4 persen.
