Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, dengan penguatan tipis. Meski demikian, mata uang Garuda masih menghadapi tekanan dari berbagai sentimen global, mulai dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah hingga data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.05 WIB, rupiah berada di level Rp18.170,5 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 17 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.187,5 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah diperdagangkan di level Rp18.166 per dolar AS pada waktu yang sama.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari akan berlangsung fluktuatif. Namun, ia menilai peluang pelemahan masih cukup besar menjelang penutupan perdagangan.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.180 per dolar AS hingga Rp18.230 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Geopolitik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar
Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen tersebut kembali menguat setelah serangan Israel di Lebanon sehari sebelumnya dan laporan adanya ledakan di sejumlah wilayah Iran.
Media lokal melaporkan suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global, termasuk distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz.
Israel disebut melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran bersamaan dengan serangan ke sejumlah target militer lainnya. Aksi tersebut terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lanjutan.
Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan berupa rentetan rudal ke sejumlah target di Israel. Namun demikian, Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik tetap terbuka.
Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong investor global cenderung mencari aset yang lebih aman, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Data Ketenagakerjaan AS Perkuat Dolar
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Data ketenagakerjaan AS periode Mei mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja baru atau jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya sebesar 85 ribu pekerjaan. Sementara itu, data bulan April direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu.
Di sisi lain, tingkat pengangguran AS tetap stabil di level 4,3 persen.
Menurut Ibrahim, laporan non-farm payrolls (NFP) yang lebih kuat dari perkiraan tersebut semakin memperkuat alasan bagi bank sentral AS atau Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan adanya kebijakan yang lebih ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi.
“Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan menaikkannya karena para pejabat menilai dampak inflasi dari harga energi yang lebih tinggi,” jelasnya.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Lebih lanjut, Ibrahim menuturkan bahwa perhatian pelaku pasar pada pekan ini akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu.
Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan. Jika inflasi masih tinggi, peluang suku bunga bertahan di level tinggi akan semakin besar dan berpotensi memperkuat dolar AS.
Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah dapat sedikit mereda.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik dan data ekonomi global yang masih mendominasi pasar, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap bergerak fluktuatif meski sempat mengawali perdagangan dengan penguatan.
