Bank Dunia Ramalkan Lonjakan Harga Energi 24 Persen akibat Konflik Timur Tengah

Bank Dunia Ramalkan Lonjakan Harga Energi 24 Persen akibat Konflik Timur Tengah

Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah memicu guncangan besar pada tata niaga pasar komoditas global. Laporan Commodity Markets Outlook terbaru yang dirilis Bank Dunia menyebut harga energi diproyeksikan melonjak hingga 24 persen pada 2026.

Lonjakan tersebut dipicu oleh serangan terhadap infrastruktur energi serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis bagi sekitar 35 persen perdagangan minyak mentah dunia melalui laut. Situasi ini menyebabkan salah satu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dengan defisit pasokan global diperkirakan mencapai 10 juta barel per hari.

Harga minyak mentah jenis Brent crude oil tercatat masih berada lebih dari 50 persen di atas level awal tahun meskipun sempat mengalami penurunan dari titik puncaknya pada pertengahan April.

Dalam proyeksinya, Bank Dunia memperkirakan harga minyak Brent akan berada di rata-rata USD86 per barel pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan USD69 per barel pada 2025. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa gangguan pasokan mulai mereda pada Mei dan arus logistik kembali normal secara bertahap hingga akhir 2026.

Dampak ke Lapangan Kerja dan Ekonomi

Kepala Ekonom sekaligus Wakil Presiden Senior Bidang Ekonomi Pembangunan Bank Dunia, Indermit Gill, memperingatkan bahwa guncangan ini membawa dampak serius terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi global.

“Perang menghantam ekonomi global dalam gelombang kumulatif: pertama melalui harga energi yang lebih tinggi, kemudian harga pangan yang lebih tinggi, dan akhirnya inflasi yang lebih tinggi yang akan menaikkan suku bunga dan membuat utang semakin mahal,” ujar Indermit dalam keterangan resminya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata merupakan hambatan besar bagi pembangunan ekonomi dan peradaban global, karena memicu tekanan berlapis terhadap stabilitas ekonomi dunia.