Wall Street Rugi Besar Seiring Lonjakan Harga Minyak Dunia

Wall Street Rugi Besar Seiring Lonjakan Harga Minyak Dunia

Saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada Kamis, 12 Maret 2026, setelah lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global. Kekhawatiran pasar meningkat setelah Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup, jalur pelayaran penting yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Mengutip Investing.com, Jumat (13/3/2026), indeks acuan S&P 500 turun 1,5 persen menjadi 6.672,77 poin. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 1,8 persen ke level 22.311,98 poin.

Adapun Dow Jones Industrial Average juga turun 1,6 persen menjadi 46.677,85 poin.

Sejak awal tahun, S&P 500 telah terkoreksi sekitar 2,5 persen. Nasdaq bahkan turun sekitar empat persen, sedangkan Dow Jones melemah 2,9 persen.

Investor Mengurangi Risiko di Tengah Ketidakpastian Konflik

Kepala investasi dan kepala strategi pasar di Truist Financial, Keith Lerner, mengatakan pasar saat ini sedang mengevaluasi kemungkinan durasi konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, meningkatnya risiko konflik yang berkepanjangan membuat ketidakpastian semakin tinggi sehingga investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham.

Ia menilai tren pasar bullish jangka panjang masih dapat dipertahankan, namun koreksi pasar kemungkinan berlanjut sebelum mencapai kondisi oversold yang lebih dalam.

Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Energi Dunia

Sentimen negatif pasar juga dipicu oleh penghentian aktivitas kapal yang melewati Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini menampung sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.

Kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency, melaporkan bahwa pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup.

Sejumlah kapal dagang di kawasan tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran serangan proyektil. Badan pemantau pelayaran Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations, menyebutkan kapal ketiga telah terkena serangan setelah dua kapal lainnya sebelumnya terbakar di lepas pantai Irak.

Irak dan Oman bahkan mengambil langkah menutup terminal minyak untuk mengantisipasi eskalasi konflik.

Harga Minyak Melonjak Tajam

Badan energi global International Energy Agency memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 10,1 persen menjadi sekitar USD101,23 per barel. Bahkan pada awal pekan ini harga sempat mendekati USD120 per barel.

Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong spekulasi bahwa bank sentral seperti Federal Reserve mungkin akan mempertimbangkan kembali rencana pemangkasan suku bunga.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan melalui platform media sosial Truth Social bahwa Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar di dunia justru bisa memperoleh keuntungan ketika harga minyak meningkat.

Data Klaim Pengangguran AS Menurun

Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan jumlah klaim pengangguran awal di Amerika Serikat turun menjadi sekitar 212 ribu, lebih rendah dari perkiraan konsensus pasar.

Ekonom dari JPMorgan, Michael Hanson, menilai data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil meskipun ekonomi menghadapi tekanan dari lonjakan harga energi.

Ia menyebut tidak ada peningkatan signifikan dalam pemutusan hubungan kerja sehingga peluang pemulihan pasar tenaga kerja tetap terbuka, meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi menekan prospek pertumbuhan dan lapangan kerja.

Selain itu, data ekonomi juga menunjukkan defisit perdagangan Amerika Serikat menyempit tajam pada Januari setelah ekspor melonjak ke rekor tertinggi dan impor mengalami penurunan.

Dikutip dari metrotvnews.com