Wall Street Lesu, Dow Jones Tetap Catat Kenaikan Tipis

Wall Street Lesu, Dow Jones Tetap Catat Kenaikan Tipis

Indeks saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street sebagian besar ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa (31/3/2026) WIB. Pelemahan terjadi di tengah meredanya aksi jual di pasar obligasi setelah muncul sejumlah komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell, sementara konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar global.

Mengutip Investing.com, indeks acuan S&P 500 ditutup turun 0,4 persen ke level 6.343,75 poin. Penurunan tersebut berbalik arah dari kenaikan sebesar 0,9 persen yang tercatat pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga melemah 0,7 persen menjadi 20.794,64 poin. Penurunan ini menghapus kenaikan sekitar 0,9 persen yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru mampu mencatatkan kenaikan tipis. Indeks yang berisi saham-saham unggulan ini naik 0,1 persen menjadi 45.216,66 poin dan berhasil keluar dari wilayah koreksi.

Ketegangan Timur Tengah guncang sentimen pasar

Pergerakan pasar saham AS sebelumnya sempat mengalami tekanan tajam pada akhir pekan lalu. Hal ini terjadi bahkan setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda hingga 6 April tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi potensi serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik domestik.

Meski demikian, Iran menyatakan bahwa dua pabrik baja, sebuah pembangkit listrik, serta situs nuklir sipil telah diserang, yang dianggap mengabaikan perpanjangan tenggat waktu tersebut.

Situasi ini memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Berita yang beragam mengenai upaya perdamaian antara AS dan Iran serta konflik yang masih berlangsung membuat investor bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Pada pekan lalu, indeks Nasdaq Composite dan Dow Jones bahkan sempat masuk wilayah koreksi setelah turun lebih dari 10 persen dari rekor penutupan terakhirnya. Sementara itu, indeks S&P 500 tercatat berada sekitar 8,7 persen di bawah rekor tertinggi sebelumnya.

Kepala investasi Resonate Wealth Partners, Alexander Guiliano, menilai pasar saham saat ini sedang bergerak menuju fase koreksi besar. Meski demikian, ia memperkirakan koreksi tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung terlalu lama.

Menurutnya, pasar saham sering kali mencerminkan skenario yang lebih suram selama periode koreksi. Hal tersebut pada akhirnya menurunkan ekspektasi investor dan membuka peluang bagi saham untuk kembali pulih.

Komentar Jerome Powell dan arah suku bunga

Lonjakan harga minyak sejak pecahnya konflik pada akhir Februari juga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi di berbagai negara. Kondisi ini dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Di tengah situasi tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah termasuk obligasi AS juga mengalami kenaikan sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell turut menjadi sorotan setelah berpartisipasi dalam diskusi yang dimoderasi di Universitas Harvard. Dalam kesempatan tersebut, Powell menyampaikan bahwa kebijakan moneter saat ini berada dalam posisi yang tepat untuk mengambil pendekatan “wait and see”.

Menurut Powell, bank sentral masih memantau dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan perekonomian Amerika Serikat.

Ia juga menyebut bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada pada kondisi yang cukup terkendali sehingga bank sentral dapat mengabaikan dampak jangka pendek dari guncangan pasokan energi.

Sementara itu, berdasarkan alat CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga Federal Reserve pada tahun ini. Meski demikian, ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sedikit mereda setelah komentar Powell.

Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pada pekan ini, termasuk data pasar tenaga kerja dan aktivitas bisnis yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Dikutip dari metrotvnews.com