Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa pemahaman kebangsaan tidak boleh dibangun sebagai doktrin atau dogma yang tidak dapat dipertanyakan. Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan harus dipahami secara kritis dan kontekstual agar mampu menjawab tantangan peradaban yang terus berkembang serta realitas ketimpangan di berbagai daerah.
“Saya tidak ingin mengulang kesalahan untuk membangun doktrin. Doktrin itu asal dari dogma, mengharuskan kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan. Ini tidak boleh,” tegas Viktor dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPR RI bersama Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Viktor menekankan nilai-nilai kebangsaan seharusnya memberi ruang bagi cara berpikir terbuka dan berkeadaban, bukan membatasi masyarakat dengan satu tafsir tunggal yang kaku.
“Pemahaman terhadap kebangsaan itu tidak boleh doktrin. Dia harus diberikan kewenangan untuk menghilangkan small thinking terhadap peradaban yang terus-menerus bertumbuh,” ujarnya.
Anggota Komisi I DPR itu juga menyoroti pentingnya keadilan substantif dalam narasi kebangsaan, khususnya bagi daerah-daerah yang kaya sumber daya alam namun masih tertinggal secara ekonomi dan pembangunan.
“Kalau nilai kebangsaan itu hanya dogma, bisa digugat oleh NTT, bisa digugat oleh Kalimantan, Sumatra. Kami yang punya sumber daya alam luar biasa, tapi kenapa kami miskin? Di mana kekayaan kami itu pergi? Itu nilai kebangsaan yang perlu digugat,” kata Viktor.
Selain itu, ia mengkritik cara pandang elitis yang kerap membanggakan posisi strategis Indonesia secara geografis tanpa diterjemahkan secara konkret dalam kebijakan nasional.
“Kita selalu bilang Indonesia strategis karena diapit dua benua dan dua samudra. Tapi strategisnya hari ini apa? Geopolitiknya seperti apa, geoekonominya seperti apa? Itu tidak pernah di-breakdown dengan baik,” ujarnya.
Viktor menegaskan desain besar kebangsaan tidak boleh berhenti pada tataran wacana atau kajian akademik semata, melainkan harus diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Dia tidak boleh cuma epistemik lalu kita membanggakan itu. Dia harus masuk ke tataran aksi agar bisa dikerjakan langsung,” pungkasnya.
Dikutip dari metrotvnews.com
