Dolar AS tertekan dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran soal keterjangkauan biaya hidup dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Bank of America (BofA) menyoroti risiko penurunan nilai dolar, terutama di tengah dinamika ekonomi yang disebut berbentuk “K”.
Mengutip Investing.com, Senin, 16 Februari 2026, analis di BofA Securities menyebut huruf “K” menjadi fokus utama investor untuk memahami kondisi ekonomi AS. Secara grafis, ekonomi berbentuk K menggambarkan aktivitas yang tetap tangguh secara keseluruhan, tetapi sangat terpecah.
Kelompok rumah tangga dan perusahaan berpenghasilan tinggi masih mencatatkan pengeluaran yang kuat. Sebaliknya, masyarakat berpendapatan rendah menghadapi tekanan berat akibat tingginya biaya hidup.
Fokus Keterjangkauan Jelang Pemilu AS
Analis BofA menilai peningkatan fokus pada keterjangkauan harga akan menjadi isu penting menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.
“Upaya untuk menurunkan biaya hipotek rumah melalui penurunan suku bunga oleh Federal Reserve adalah resep yang paling mungkin diajukan oleh para pembuat kebijakan,” tulis analis BofA.
Namun, langkah tersebut berpotensi memberikan dampak negatif terhadap dolar AS. Penurunan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik mata uang karena imbal hasil aset berbasis dolar menjadi lebih rendah.
Ketidakpastian Ketua The Fed Baru
Perdebatan juga mengemuka terkait prospek kebijakan di bawah pimpinan baru Federal Reserve. Nama Kevin Warsh, yang dicalonkan Presiden Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, menjadi sorotan pasar.
Ketidakpastian muncul terkait kemungkinan Warsh akan mendorong pengurangan kepemilikan obligasi bank sentral. Kebijakan tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga secara bertahap, sejalan dengan preferensi Trump yang menginginkan biaya pinjaman lebih rendah untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi faktor yang memengaruhi prospek ekonomi dan dolar AS. Laporan pasar tenaga kerja Januari menunjukkan perlambatan perekrutan di sektor bisnis dan jasa profesional, yang diduga berkaitan dengan kehati-hatian perusahaan terhadap dampak AI pada produktivitas dan tenaga kerja.
Analis BofA menyebut potensi produktivitas dan disinflasi yang didorong AI bisa dijadikan alasan untuk kebijakan moneter lebih longgar. Namun, selama risiko perpindahan tenaga kerja belum sepenuhnya mereda, sentimen negatif terhadap dolar AS dinilai masih akan berlanjut.
Indeks Dolar Turun Lebih dari 10 Persen
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, tercatat merosot lebih dari 10 persen dalam satu tahun terakhir.
Kampanye pemerintahan Trump untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur AS juga menempatkan nilai tukar mata uang sebagai pusat perhatian. Secara teori, dolar yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing ekspor AS karena harga barang menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Namun, pelemahan dolar juga berisiko meningkatkan biaya impor bahan baku dan komponen, yang berpotensi mendorong inflasi kembali naik.
Meski demikian, indikator arus dan posisi nilai tukar yang dipantau BofA belum menunjukkan tanda-tanda “penurunan nilai” dolar secara besar-besaran. Arus masuk ekuitas dan obligasi tetap relatif stabil, serta belum ada indikasi investor asing melepas eksposur mereka di pasar AS secara signifikan.
BofA melihat ruang peningkatan lindung nilai (hedging) dolar AS, yang menjadi bagian dari tesis pelemahan dolar sepanjang 2026.
