Jika franchise film The Fast and the Furious: Tokyo Drift dikenal dengan aksi seluncur mobil di pegunungan, maka di dunia nyata, warga Tretes, Pasuruan, punya versi ekstremnya sendiri. Namanya Gledekan Tretes, permainan tradisional tanpa mesin yang kini viral di media sosial dan menjelma menjadi magnet wisata dadakan.
Permainan ini berlangsung di Lingkungan Palembon, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Setiap Minggu pukul 04.00 hingga 06.00 pagi, jalan raya jurusan Prigen–Pandaan berubah menjadi lintasan adrenalin sepanjang kurang lebih 500 meter.
Seluncur Bermodal Gravitasi dan Nyali
Gledekan merupakan kendaraan rakitan tanpa mesin. Bentuknya menyerupai gokar sederhana, terbuat dari rangka besi, pipa, atau kayu dengan roda karet maupun laker (bearing). Tidak ada pedal atau gas—yang menggerakkan hanya gravitasi dan keberanian.
Peserta duduk rendah sambil memegang setir sederhana. Begitu dilepas dari garis start di bawah tikungan Sekuti, kendaraan meluncur mengikuti kontur jalan menurun hingga finis di persimpangan Tanjakan Jerapah.
Setelah mencapai garis akhir, peserta tidak kembali dengan kendaraan. Gledekan didorong atau dipanggul sambil berjalan kaki menanjak menuju titik awal. Siklus ini berlangsung berulang selama dua jam.
“Karena lokasinya berada di kawasan wisata Tretes, permainan ini mendapat sebutan Gledekan Tretes. Kami menggelar ini tiap Minggu selama dua jam,” ujar Feris, panitia sekaligus pemuda setempat.
Sistem Buka-Tutup dan Pengamanan Ketat
Meski berlangsung di jalan raya, kendaraan umum tetap dapat melintas dengan sistem buka-tutup. Panitia menempatkan marshal di beberapa titik untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu peserta jika terjadi insiden.
Dari arah Prigen menuju Pandaan, kendaraan masih bisa lewat. Sedangkan dari arah Pandaan menuju Tretes biasanya dialihkan melalui Tanjakan Jerapah saat peserta meluncur.
Panitia juga mewajibkan peserta menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm, sepatu, serta pelindung siku dan lutut. Peserta yang tidak mematuhi aturan langsung diminta menepi.
Dari Tradisi Ramadan Jadi Fenomena Viral
Sebenarnya, gledekan bukan hal baru bagi warga Palembon. Permainan ini sudah lama dimainkan saat Ramadan menggunakan papan kayu beroda laker. Namun sejak Oktober 2025, tradisi tersebut kembali hidup dan dalam dua bulan terakhir popularitasnya melonjak berkat media sosial.
Kini, peserta bisa mencapai 150 orang lebih setiap pekan. Tidak hanya dari Pasuruan, tetapi juga dari Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Probolinggo, Madiun, Kediri, hingga Pati, Jawa Tengah.
Banyak peserta dari luar kota datang lebih awal dan menginap di kawasan wisata Tretes.
Eko (36), warga Surabaya, mengaku awalnya hanya menonton setelah melihat video viral di TikTok. Kini ia rutin ikut bersama istri dan anaknya. Gledekan miliknya dirakit di bengkel las dengan biaya sekitar Rp1,5 juta.
“Awalnya hanya melihat-lihat setelah viral, kemudian tertarik dan mencoba ikut. Ternyata asyik, memacu adrenalin,” ujarnya.
Ruang Temu dan Wisata Dadakan
Menjelang matahari terbit, suasana makin ramai. Penonton berjejer di sisi jalan, duduk di trotoar atau merekam aksi peserta. Sorak sorai terdengar setiap kali satu gledekan melesat cepat melewati tikungan.
Della, penonton asal Sidoarjo, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung. “Sangat menghibur dan seru. Kalau melihat dari dekat jadi tidak penasaran,” katanya.
Di tengah udara dingin pegunungan, Gledekan Tretes bukan lagi sekadar permainan tradisional. Ia telah menjelma menjadi ruang temu warga, panggung adrenalin, sekaligus destinasi wisata spontan yang tumbuh dari semangat kolektif masyarakat setempat.
Dikutip dari jawapos.com
