Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Pelemahan ini terjadi akibat aksi ambil untung investor setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menopang permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Dilansir dari Investing.com pada Jumat, 6 Maret 2026, harga emas spot tercatat turun 1,1 persen menjadi USD5.087,63 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga melemah 0,8 persen menjadi USD5.095,96 per ons.
Sebelumnya, harga emas sempat naik sekitar satu persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Secara keseluruhan, harga emas bahkan telah melonjak hampir 20 persen sejak awal tahun 2026 karena tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas. Situasi memanas setelah Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional.
Di sisi lain, Iran juga terus meluncurkan rudal ke sejumlah negara di kawasan tersebut dan disebut menargetkan infrastruktur energi penting. Konflik ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang regional yang lebih luas.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi investasi pada aset berisiko dan beralih ke emas yang secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven saat terjadi ketidakpastian global.
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas
Meski ketegangan geopolitik meningkat, penguatan dolar AS justru menekan harga emas. Indeks dolar AS kembali menguat pada Kamis setelah sebelumnya turun sekitar 0,3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penguatan mata uang dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini biasanya akan mengurangi permintaan terhadap emas di pasar global.
Analis dari ING menyatakan bahwa harga emas saat ini menghadapi sejumlah faktor makroekonomi yang saling bertentangan.
Menurut mereka, dampak inflasi dari konflik Timur Tengah, terutama melalui kenaikan harga energi, dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut biasanya menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.
Namun, ketidakpastian geopolitik yang tinggi masih memberikan dukungan terhadap harga emas melalui peningkatan premi risiko di pasar.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami pergerakan harga. Harga perak tercatat turun 1,6 persen menjadi USD82,1880 per ons.
Sementara itu, harga platinum relatif stabil di level USD2.152,80 per ons.
Di pasar logam industri, kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange naik 0,8 persen menjadi USD13.057,50 per ton. Sebaliknya, kontrak berjangka tembaga di Amerika Serikat turun sekitar satu persen menjadi USD5,8457 per pon.
Para analis menilai penurunan harga emas dalam beberapa waktu terakhir kemungkinan hanya bersifat sementara. Jika ketidakpastian geopolitik dan kondisi pasar saat ini berlanjut, emas diperkirakan masih akan tetap diminati sebagai aset safe haven oleh investor global.
Dikutip dari metrotvnews.com
