Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan Rabu pagi (14/1/2026). Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 09.38 WIB rupiah berada di level Rp16.868 per dolar AS, menguat sembilan poin atau setara 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.877 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat berada di level Rp16.870 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berlangsung fluktuatif. Meski sempat menguat, rupiah diperkirakan akan kembali melemah hingga penutupan perdagangan.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.870 per dolar AS hingga Rp16.900 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar global yang terguncang oleh perkembangan politik dan ekonomi di Amerika Serikat. Salah satu faktor utama adalah investigasi kriminal yang diluncurkan jaksa AS terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Menurutnya, meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed telah melemahkan kepercayaan pasar terhadap independensi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Jerome Powell sendiri menilai langkah Departemen Kehakiman AS tersebut bermotivasi politik dan merupakan bentuk campur tangan terhadap independensi bank sentral.
Di sisi lain, sentimen geopolitik global juga membebani pasar. Iran dilaporkan menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yang diwarnai kekerasan dan korban jiwa akibat tindakan aparat keamanan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran. Trump juga mengumumkan rencana pengenaan tarif sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran, sebagai upaya mengisolasi Teheran secara ekonomi.
Selain faktor global, Ibrahim juga menyoroti kebijakan domestik yang turut menjadi perhatian pasar. Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana pemerintah di perbankan sebesar Rp75 triliun dinilai tidak akan mengganggu penyaluran kredit perbankan.
“Penarikan dana tersebut tidak berisiko mengganggu penyaluran kredit perbankan karena kondisi likuiditas saat ini masih berada pada level aman,” tegas Ibrahim.
Ia menjelaskan, likuiditas perbankan masih terjaga, tercermin dari tingginya nilai kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan atau undisbursed loan, yang mencapai Rp2,5 triliun atau sekitar 23,18 persen dari total plafon kredit per November 2025.
Menurut Ibrahim, persoalan utama perbankan saat ini bukan berada pada sisi likuiditas, melainkan pada lemahnya permintaan kredit. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih rendah meski pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp276 triliun di perbankan sejak September 2025.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan hingga November 2025 hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan, di bawah target BI yang mematok pertumbuhan kredit di kisaran 8–11 persen sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan dinilai kurang efektif dalam mendorong peningkatan permintaan kredit, sehingga dampaknya terhadap perekonomian masih terbatas.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Ibrahim menilai pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan perlu mencari terobosan guna mendorong permintaan kredit. Salah satunya melalui peningkatan belanja pemerintah agar aktivitas ekonomi bergerak lebih agresif.
Selain itu, stimulus fiskal berupa pengurangan pajak bagi dunia usaha juga dinilai penting agar pelaku usaha lebih terdorong melakukan ekspansi, bukan sekadar bersikap menunggu dan melihat perkembangan.
Dikutip dari metrotvnews.com
