Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, Jumat, 6 Februari 2026, hingga pukul 09.32 WIB rupiah berada di level Rp16.886 per dolar AS, turun 44 poin atau setara 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.842 per dolar AS.
Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat berada di level Rp16.821 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif, namun cenderung ditutup melemah. Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp16.840 per dolar AS hingga Rp16.900 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, terutama antisipasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve yang diperkirakan lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh. Pelaku pasar juga menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed setelah jeda penurunan suku bunga pada Januari serta penunjukan pimpinan baru bank sentral AS tersebut.
Ia menjelaskan, pasar keuangan saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Juni hanya sekitar 46 persen, berdasarkan alat CME FedWatch.
Selain itu, sentimen global turut dipengaruhi oleh percakapan positif antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Trump menyatakan telah melakukan pembicaraan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi, yang membantu meredakan ketegangan antara Washington dan Beijing.
Trump juga mengungkapkan rencana kunjungannya ke Tiongkok pada April mendatang untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk perdagangan, militer, Taiwan, perang Rusia-Ukraina, Iran, serta pembelian minyak dan gas Tiongkok dari Amerika Serikat.
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh laporan Badan Pusat Statistik terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2024 yang sebesar 5,03 persen.
BPS mencatat nilai produk domestik bruto atas harga berlaku sepanjang 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp13.580,5 triliun. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,51 persen secara tahunan.
Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta informasi dan komunikasi menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto menjadi kontributor terbesar. Wilayah Jawa dan Sulawesi tercatat tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut melampaui konsensus ekonom dan analis yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 berada di kisaran maksimal 5,1 persen secara tahunan, sebagaimana estimasi median yang dihimpun Bloomberg.
Dikutip dari metrotvnews.com
