Kerja Sama Energi Indonesia–Korea Selatan Dorong Hilirisasi dan Ketahanan Energi

Kerja Sama Energi Indonesia–Korea Selatan Dorong Hilirisasi dan Ketahanan Energi

Anggota Komisi XII DPR RI, Alfons Manibui, mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam memperkuat diplomasi energi dengan Korea Selatan. Dukungan tersebut terkait penandatanganan tiga nota kesepahaman strategis di sektor energi antara kedua negara.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan energi bersih seperti energi terbarukan, hidrogen, nuklir, serta teknologi smart grid. Selain itu, kolaborasi juga mencakup penguatan teknologi carbon capture and storage (CCS) serta pengembangan mineral kritis yang menjadi fondasi penting bagi industri energi masa depan.

Menurut Alfons, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin aktif memainkan peran strategis dalam diplomasi energi global. Selain itu, kerja sama tersebut dinilai dapat memperkuat arah kebijakan nasional menuju transisi energi yang terukur dan berkelanjutan.

Legislator dari Partai Golkar tersebut juga menilai kolaborasi ini sangat penting untuk memperkuat hilirisasi mineral kritis, khususnya nikel. Indonesia saat ini diketahui menguasai sekitar 40 persen cadangan nikel dunia yang menjadi bahan baku utama dalam industri baterai kendaraan listrik.

Ia menegaskan bahwa momentum kerja sama ini harus dimanfaatkan untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu masuk hingga ke rantai nilai industri baterai dan kendaraan listrik global.

Dorong Transfer Teknologi dan Ketahanan Energi

Selain penguatan hilirisasi, Alfons juga menekankan pentingnya memastikan setiap investasi yang masuk disertai dengan transfer teknologi yang nyata dan terukur. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.

Di tengah dinamika geopolitik global, termasuk potensi gangguan rantai pasok energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah, kerja sama ini dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurutnya, kolaborasi teknologi dan diversifikasi sumber energi akan membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi tertentu sekaligus meningkatkan ketahanan energi dalam menghadapi gejolak global.

Alfons berharap implementasi kerja sama ini dapat berjalan optimal dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Hal tersebut mencakup penguatan industri dalam negeri, peningkatan nilai tambah ekonomi, serta menjaga keseimbangan antara agenda transisi energi dan ketahanan energi nasional.